Mengindahkan Kain Pesisir

Fashion June 18, 2011 0 4,944 views

Batik yang menggambarkan percintaan Sampek dan Engtay. Kisah tragis yang membuat mereka berubah menjadi kupu-kupu setelah keduanya meninggal.

Seperti orang jatuh cinta. Memandang  apa yang kita cintai terasa lebih ‘dalam’. Karena tidak cuma mata yang memandang tetapi juga mata hati. Tak cuma pada manusia tetapi juga pada binatang, pada benda.

Celana batik santai yang dipakai orang Belanda sekitar abad ke 19.

Memperhatikan dan mengamati ratusan koleksi kain Batik Pesisir di lobby Hall A JCC, Jakarta, rasanya seperti melihat pameran lukisan. Setiap lembar kain yang ditata apik dilengkapi dengan keterangan tertulis yang cukup jelas. Batik-batik indah  itu terasa makin indah bila kita memperhatikan dengan mata hati. Setiap lembar seperti bercerita. Setiap batik seolah bertutur tentang sejarah dan budaya. Dalam diskusi tentang ‘Mengenal Kolektor dan Koleksinya lewat Batik Pesisir’ pada pembukaan pameran Adiwastra, Hartono Sumarsono, sang kolektor, mengurai koleksinya. Dari batik dengan latar belakang pengaruh Belanda, pengaruh Jepang, berlatar gambar dan motif yang halus, sampai batik yang bercerita baik kisah percintaan, pewayangan maupun filosofi  Cina tentang harapan , kekuatan dan kemerdekaan.

Batik yang menggambarkan kisah Arjuna Wiwaha setelah mengalahkan raksasa Niwatakawaca mendapat istri 7 bidadari.

Masing-masing batik di’bedah’ satu persatu oleh Hartono. Baik dari keindahan motif, riwayat hingga detail yang ada di dalam batik itu sendiri. Isen-isen ( ragam hias pengisi suatu bidang), teknik  pembuatan cecekan yang menghasilkan titik-titik sangat halus dan dibuat dengan ujung jarum dan  cocohan yang dibuat dengan canting berparuh tunggal atau ganda. Kehalusan tangan pembatik masa lalu menghasilkan guratan, lengkungan yang artistik. “ Saya heran sekarang kok sulit menemukan pembatik yang menghasilkan lengkungan seindah itu” katanya.

Inilah batik berlatar halus Oey Soe Tjoen yang asli. Ada 3 pokok yang bisa menjadi panduan. Ada nama pembuatnya, ada stempel dan ada nomor di ujung kain.

Dengan memiliki latar belakang wawasan tentang batik  dan menggunakan mata hati, kita bisa melihat lembar-lembar kain sepanjang pesisir itu tidak hanya seperti melihat tatanan benda yang menarik. Lebih dari itu, setiap detailnya seperti berbicara saat mata kita memandangnya. Terbayang saat para pembatik masa lalu berkutat dengan tekun membuat garis, lengkung dan isen-isen dengan kemahiran prima para pembatik masa lalu. Tak heran setiap helai batik baru bisa diselesaikan dalam waktu 8 bulan sampai 1 tahun!

Inilah batik Oey Soe Tjoen yang palsu.

Di area pameran itu jajaran kain kuno yang diatur menurut wilayah pesisir, diperjelas dengan foto masa lalu sesuai dengan batik yang mereka kenakan. Maka selain keindahan kain-kain panjang yang berusia puluhan sampai ratusan tahun itu, juga terdapat foto orang Belanda tempo doeloe yang memakai celana pangsi batik. Bila sedang bersantai di rumah  rupanya mereka memakai  celana yang sekarang umum kita kenal sebagai  celana masayarakat Betawi, celana pangsi.

Leave A Response »