close

admin

Sosok

Keindahan Batik Putri Keraton

batik-wati-14

Semula saya mengenalnya sebagai ibu rumah tangga. Ia beraktivitas selayaknya ibu ibu lainnya. Melahirkan anak, memasak, menata rumah dan sebagainya. Lho, biasa kan? Ya ,sih, tapi yang membuat saya menandainya dengan cermat adalah karena ia adalah putri keraton, putri Sultan Hamengku Buwono IX dan sikapnya selalu lembah manah, rendah hati. Setiap kali saya singgung tentang darah bangsawannya, ia selalu mengelak, semacam “Ah, biasa saja.”

Saya mengenalnya  saat  ia belum lama menikah. Ia tak berubah. Bahkan ketika ia karena kecintaan pada batik warisan leluhu ria  menggeluti bidang ini sebagai profesinya dan dikenal luas,  ia tetap menjadi sosok yang sama. Ia saya panggil dengan ‘mbak Wati’ meski nama resminya adalah GBRAy ( Gusti Bendoro Raden Ayu) Murywati Darmokusumo.

Kini kiprahnya di dunia bisnis batik makin mendunia.  Dengan brand, ‘Sekar Kedaton’, ia tak hanya menghasilkan  batik batik tulis yang punya sejarah motif keraton tetapi juga merambah ke dunia fashion. Beberapa tahun setelah ia menggeluti bidang itu,  karyanya sudah sampai di New York, di Canada dan kota dunia lainnya. Ia juga aktif berperan pada pameran di Museum Tekstil Bangkok saat dipamerkannya  kain batik Parang Barong hadiah  dari Sultan Hamengku Buwono VII pada raja Thailand saat itu, King Rama V. Mbak Wati diminta  oleh pihak pengelola Museum Tekstil Thailand membuatkan duplikat yang sama dengan kain hadiah dari leluhurnya yang diberikan pada King Rama, Kain  dodot yang panjangnya 7,5 meter dan  lebar 2,5 meter  itu bermotif Parang Rusak Barong yang pada masa itu hanya boleh dikenakan oleh para raja. “Proses mengerjakannya cukup sulit  karena dilakukan  dari 6 kain panjang  yang disambung dan dibatik yang prosesnya pun tidak gampang karena dikerjakan dengan cermat dan hati hati, tidak gampang menghilangkan lilin ( malam ) sehingga warna putihnya juga sangat bersih. Saya mengerjakannya pun selama 2, 5 tahun,” katanya. Proses yang luar biasa.

 

Putri Keraton yang punya  brand ‘Sekar Kedaton’  ini memang  tidak hanya berbisnis batik tetapi juga mendalami dan  mengenal motif-motif batik keraton secara detail. Sejak awal pada peragaan busana di Keraton pada masa Sultan Hamengku Buwono IX  dan mbak Wati masih gadis muda, ia sudah terlibat di dalamnya,
Kini dalam peragaan busana  karyanya ia sering memakai  muse selebriti, seperti  Ayu Diah Pasha,  Wulan Guritno, Shelomita,  dan sebagainya .

Pada acara ‘Heritage of Keraton’  tahun ini, di hotel Dharmawangsa, Jakarta,  Mbak Wati juga berperan dengan menata peragaan busana keraton Yogya dengan muse antara lain Eva Celia putri Sophia Latjuba.

Yang menarik para undangan yang terdiri dari para duta besar dan istri dari negara sahabat, memakai  kain dan batik Jawa. Mbak Wati bahkan memesan khusus cemara berwarna pirang  untuk para wanita yang mempunyai warna  rambut  pirang.  “Mereka kelihatan sangat senang mengenakannya, “ kata putri Kedaton ini. Tentu kalau budaya kita dihargai  bangsa lain, apalagi oleh bangsa sendiri, kita juga ikut gembira. Bagi Putri keraton ini melestarikan batik warisan leluhurnya dan mengemasnya dalam busana yang bisa dikenakan para wanita masa kini tentulah suatu kebanggaan tersendiri.  RM. Foto: dok Sekar Kedaton

 

read more
Fashion

Kami & Revival Fashion Festival

kami-5

  

Kami, salah satu label pakaian modest Indonesia, Agustus lalu  menampilkan koleksi terbaru dalam turut meramaikan panggung pergelaran virtual fashion show bertajuk Revival Fashion Festival (RFF) yang diadakan oleh Jakarta Fashion Week. Revival Fashion Festival merupakan event fashion show yang diadakan untuk mendukung dan memberi ruang kepada para pelaku industri fashion, beauty dan lifestyle untuk bangkit dan kembali produktif di kondisi normal baru setelah sebelumnya terkena dampak pandemi Covid 19. Dalam rangka menyesuaikan dengan kondisi normal baru, event RFF yang dilaksanakan dari tanggal 5 – 9 Agustus 2020 ini dilakukan secara virtual dan dapat disaksikan secara online melalui kanal JFW dan juga live streaming di aplikasi Lazada.

“Alhamdulillah di masa pandemi ini, brand Kami masih aktif dan produktif dalam menghadirkan koleksi untuk memenuhi kebutuhan para pecinta modest fashion. Meskipun tantangannya kali ini cukup banyak, salah satunya bagaimana untuk menampilkan dan memperlihatkan secara langsung koleksi baru yang diluncurkan, “ucap Istafiana Candarini, Director dan Co-Founder Kami.

 

Dua koleksi terbaru yakni “ISHANI” dan “ARISA”  ditampilkan dengan total 20 look mulai dari tunik, blouse, luaran, dan dress. Masih membawa sentuhan budaya Korea, kedua koleksi yang ditampilkan Kami terinspirasi dari elemen dan juga kerajinan khas Korea. Koleksi ISHANI terinspirasi dari keindahan bunga Mawar Sharon, atau yang dikenal sebagai ‘Mugunghwa’, yakni bunga nasional Korea Selatan. Nama Korea ‘Mugunghwa’ sendiri berarti ‘bunga abadi yang tidak pernah pudar’. “Bunga ini melambangkan kesuksesan dan kembalinya kekuatan. Koleksi ini adalah pengingat bahwa bahkan selama hari-hari gelap, pengabdian dan keimanan kita tidak boleh pudar,” ucap Nadya Karina, Creative Director dan Co-Founder Kami.

Koleksi ARISA terinspirasi oleh metafora budaya dari kain selimut tradisional Korea. Kain ini memiliki makna menyimpan kenangan. Motif pada koleksi ARISA merupakan turunan dari motif koleksi JANA, sebuah koleksi Raya Kami yang terinspirasi dari Pojagi atau Bojagi yakni teknik quilting tradisional Korea kuno berusia 2000 tahun. “Teknik Pojagi dibuat dengan menggabungkan beberapa jenis kain seperti sutra dan rami, yang kemudian dijahit menjadi satu kain utuh. Setiap potongan yang dijahit dalam Pojagi membawa bagian yang berarti dari hidup. Koleksi ARISA adalah tentang kenangan yang disimpan waktu ke waktu, baik atau buruk, dan bagaimana mengubahnya menjadi berkah.”kata  Nadya Karina, Creative Drector dan Co-Founder Kami.

Cerita dan makna inspirasi dari koleksi ISHANI dan ARISA ini sarat makna dan membawa pesan yang sesuai dengan latar belakang event Revival Fashion Festival. Hal ini juga berkaitan dengan kondisi yang saat ini dirasakan dari adanya pandemi COVID-19. “Harapan Kami, semoga koleksi ini dapat diterima dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan para pecinta modest fashion. Dan cerita dari koleksi ini dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk bangkit dan mengembalikan kekuatan untuk bisa menghadapi tantangan dari kondisi yang saat ini kita jalani sambil terus berharap dan berusaha agar ujian pandemi ini dapat segera berakhir,” tutur Istafiana Candarini

 

read more
Kain

Daya Tarik Selendang Indonesia

sld-11

Selendang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.  Lihat saja di beberapa kepulauan kita selendang umum dipakai sebagai  pelengkap kain kebaya/atasan bahkan juga elok dipadu dengan gaun modern. Bila awalnya selendang hanya dipakai pada upacara resmi atau upacara adat, kini selendang sudah menjadi bagian dari fashion masa kini. Ia bisa tampil sebagai pelengkap busana tetapi juga cantik dipakai sebagai scarf atau bahkan digunakan sebagai hijab.

Dan inilah yang dilirik oleh Ibu Edith Ratna , pecinta wastra Nusantara  sekaligus penyelenggara Pameran Adi Wastra Nusantara untuk dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan Pameran Adiwastra Nusantara  dalam  bentuk lomba pembuatan selendang. Sejak tahun 2018 Lomba Selendang Indonesia sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pameran tersebut.

Menggembirakan bahwa dari tahun ke tahun peserta lomba selendang ini semakin bertambah, tak hanya dalam jumlah tetapi juga dalam ragam kreativitas.  Bekerja sama dengan dengan Traditional Textile Arts  Society of South East Asia ( TTASSEA) yang diketuai oleh GKBRRAA Paku Alam,  lomba ini semakin  berkembang. Tak hanya selendang batik  dalam berbagai motif tradisional maupun modern, tetapi juga selendang  tenun dan selendang dengan hiasan Sulam tangan menjadi  bagian yang dilombakan.  Diharapkan lomba ini dapat membangkitkan kreativitas  para perajin, desainer dan pencinta  kain Nusantara dalam mengembangkan  selendang yang merupakan kekayaan budaya kita.

Tahun ini, panitia Adiwastra Nusantara  juga menyelenggarakan  Lomba Selendang Indonesia  dengan tema    Citra Puspa Indonesia. Lomba ini diselenggarakan dalam tiga kategori yaitu kategori Selendang  Tenun ( ATBM/gedogan) kategori Selendang Batik ( batik tulis/batik cap/kombinasi batik tulis dan cap)  serta kategori Selendang Jumputan/Sulaman/Bordir Tangan ( dikerjakan secara manual/kerajinan tangan).  Menggembirakan bahwa peserta tahun ini mencapai lebih dari 150 peserta.   Meski belum diumumkan siapa pemenang dari masing masing kategori, karya beberapa finalis bisa dilihat dalam beberapa sesi pemotretan ini. Tampil indah dan memberi harapan baru bagi semakin meluasnya karya  Selendang Indonesia  yang  menjadi  peluang baru bagi karya  cipta Nusantara tak hanya di dalam negeri tetapi juga meluas ke  manca Negara. (RM) Fpt0 

 

 

read more
Kain

Gelar Tekstil Internasional

tekstil-2

Yogya kembali menggelar event internasional. Awal November lalu yogya menjadi tuan rumah penyelenggaraan ‘7th Asean Traditional Textile Symposium 2019’.  Para pakar dari berbagai negara seperti Malaysia ( bahkan istri Yang Dipertuan Agung sendiri hadir dalam acara ini dan aktif berkomentar ) Korea, Jepang, Singapore, Kuwait, Australia,  mengikuti simposium  2 hari yang diselenggarakan  panitia.  Sebelumnya para tamu negara ini dijamu oleh pihak Kasultanan maupun Pakualaman dengan jamuan dan pertunjukan tari tradisional.

Berbagai pakar tekstil tradisional dari berbagai negara itu berbagi ilmu, memberikan pemaparan  sejarah dan perkembangan tekstil  tradisional di negara masing masing.

Yayasan Traditional Textiles Arts Sosiety of South East Asia ( TTASSEA)  merupakan perkumpulan masyarakat pencinta tekstil Asia Tenggara nirlaba  yang terdiri dari para akademisi, perajin, para kolektor dan pelaku aktif yang mengupayakan  pelestarian dan  pengkonservasian  tekstil tradisional Asia Tenggara. Simposium mengenai hal ini pertama kali diselenggarakan di Gedung Sekretariat ASEAN Jakarta pda 6 Desember 2005. Tahun 2019 merupkan simposium yang ke 7.

Dibuka oleh GKR Hemas, serta tuan rumah acara ini,  GKBRAA  Paku alam, President Traditional Textile Arts Society of South East Asia, acara ini  berhasil memberi berbagai gambaran kemajuan  tekstil tradisional dari berbagai negara yang dibawakan oleh para pakar negara tersebut.

Yang membanggakan adalah dari negara kita sendiri banyak generasi muda yang berminat  dalam pengembangan tekstil atau kain hasil negeri sendiri.  Dengan kreativitas dan cara mengikut sertakan teknologi masa kini mereka bangkit memberikan  gambaran yang menggembirakan dalam pendekatan baru  pengembangan kain atau tekstil Nusantara. Salah satunya adalah Dewi, dosen  muda cantik dari ISI Bali. Pemaparannya dalam memberikan pendekatan baru  yang berkaitan dengan penelitiannya tentang kain kain di Bali menarik. Muda usia dan tekun berkaryua, Semoga banyak generasi muda yang fokus dan serius dalam kekayaan wastra negeri sendiri

 

read more
Kain

Melihat Pelangi

katum-9

 

Sulaman dari 72 pakar menyulam yang dikumpulkan dalam memperingati Hari Kemerdekaan yang Indonesia yang ke 72.

Sulaman dari 72 pakar menyulam yang dikumpulkan dalam memperingati Hari Kemerdekaan yang Indonesia yang ke 72.Bahasa daerah kita memang kaya. Pelangi dalam bahasa Sunda disebut Katumbiri. Maka pameran berjudul sama adalah pameran yang menyajikan berbagai hasil karya, kerajinan seni  bangsa kita. Kain, busana,  interior, kerajinan tangan ataupun perhiasan yang berkualitas dipamerkan dalam berbagai karya, bak pelangi yang beraneka warna.

Di selenggarakan di Jakarta Convention Centre Desember lalu, selama lima hari pameran tersebut memang memberikan  gambaran tentang perkembangan dan ragam karya seni Nusantara. Dalam pameran serupa ini kita bisa melihat  apa saja beragam karya yang dipamerkan, karya  apa saja yang disajikan secara kreatif dan inovasi apa yang dihasilkan oleh masing masing perajin ataupun pengusaha seni. Melihat kekayaan budaya kita,  setiap daerah mempunyai karya karya yang beragam  menunjukkan ciri khas daerah tersebut.

Maka pameran seperti Katumbiri ini juga memberi kesempatan bagi para perajin  untuk memaerkan kerajinan yang mungkin jarang diperhatikan dengan teliti seperti kerajinan sulam yang ternyata menghasilkan banyak karya yang membanggakan. Salah satu stand pameran ini memamerkan kerajinan sulam dari 72  pakar  seni sulam dari berbagai daerah. Dengan dasar warna lambang negara kita, mereka  bersatu dalam menyajikan karya seni sulam  dalam  bentuk patch work yang indah. Dihadirkan untuk ikut memberi arti bagi perayaan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus lalu yang ke 72,  karya seni ini memang menarik .

Melihat pameran memang bisa menambah wawasan kita dalam melihat hasil karya kekhasan tiap daerah yang beragam. Interaksi antara pengunjung yang berbelanja dan peserta pameran  membuat kegiatan ekonomi berlangung dengan  baik.  Dan bukankah itu yang banyak diharapkan para pelaku ekonomi ini?

 

read more
InfoUncategorized

Lukisan GM

GM-9

 

 

Kalau disebut GM, semua orang media mestinya tahu siapa yang dimaksud, Dialah Goenawan Mohammad, wartawan kawakan, pendiri majalah Tempo yang catatan pinggirnya selalu menghentak, dan membuat isi majalah Tempo enak dibaca dan .. perlu. Maka banyak yang bertanya ketika Goenawan Mohammad  berpameran lukisan “Lho Pak GM melukis toh? ”  Ternyata memang sang wartawan dan sastrawan ini sebenarnya telah beberapa tahun  terjun di kancah seni rupa dan tentu saja termasuk menekuni dunia lukis. Bagi mereka yang mengenalnya dekat, tidak heran tentang hal ini. Memang beberapa tahun   terakhir, ia sudah aktif menghadirkan  beberapa karya seni rupa seperti   skesta sktesa dan lukisan lukisan yang dipamerkan di beberapa kota. Tahun  lalu  misalnya, Goenawan sudah berpameran di Semarang dan pada November lalu di Yogya. apakah ini sebuah loncatan? ‘Bagi saya, melukis bukan sebuah loncatan ke depan tetapi ke samping,’ katanya dalam pengantar buku pamerannya.

Pameran yang diselenggarakan di Museum  Dan Tanah Liat, di selatan Yogya ini  dihadiri para seniman, sahabat dan wartawan.  Berjudul agak unik  ‘Binatang’,  dituturkan  penulis Wahyudin yang menulis di buku pengantar pameran, jawaban Goenawan saat ia bertanya tentang tema pameran ini. “Saya menyimpan rasa bersalah di masa lalu dengan binatang. Suatu ketika saya menembak mati seekor burung .  Saya gegabah melakukannya dan karena itu saya menyesal.”  Wahyudin juga menyebutkan bahwa  menurut Goenawan  binatang merupakan makhuk yang menakjubkan , “Saya suka. Apalagi saat kecil saya dekat dengan cerita cerita binatang, ” katanya.

Yang menarik juga adalah  dipamerkannya  sketsa beberapa  wayang dengan keterangan tentang apa, siapa  dan kisah sosok wayang tersebut. Dari sosok Bhisma, Karna, Kresna, Kunti, Surti Kanti hingga Durna. Tokoh tokoh yang menyelimuti kisah  Mahabaratha, sesepuh para  Pandawa dan Kurawa. Tetapi  juga ada skesta  burug deruk  yang diselamatkan nyawanya oeh Raja Usinara.

Tema Binatang, membuat pameran ini menampilkan karya karya GM yang menarik dan perlu dilihat.

 

 

 

read more
Kuliner

Ngopi di Ruangopi

IMG-20180903-WA0020

Nampak sederhana namun artistik, bangunan sekitar 9 x 7 meter itu  ternyata bisa jadi tempat ngopi yang menyenangkan. Meski berada di lingkungan perumahan, di Bekasi Selatan, marketing dan promosi yang bagus  membuat’ Ruangopi, Coffee & Roastery’  ini punya cukup banyak pelanggan. Cara menyuguhkan kopi yang  home made dengan  beberapa alat yang merupakan kreativitas Turi, sang pemilik membuat tempat ngopi ini agak berbeda.

Melihat langsung saat ia melakukan roasting kopinya, Turi sempat menjelaskan:  Rasa kopi yang terlalu pahit atau terlalu datar itu karena ekstraksi kopi yang dihasilkan. Bila biji kopi digiling terlalu halus maka akan terasa pahit, kalau terlalu kasar akan terasa datar.  Begitupun rasio air juga harus diperhatikan, dianjurkan 1 gr kopi itu dengan 15 ml air. Suhu ideal 90 -96 derajat C, pada suhu itu kopi akan terekstrak secara opimal. Ini tentu penjelasan profesional yang  menambah wawasan terutama bagi penikmat kopi amatir seperti saya yang hanya  tahu apa yang terasa enak di lidah.

Ruangopi ini dikerjakan bersama oleh pasutri  Turi dan Ratna yang kemudian menyebutkan bahwa tempat ini juga pernah dan bisa digunakan  untuk acara prewedding,  akad nikah, foto band  acara MNC music Happy Hour.   Tempat yang sekilas nampak sederhana ini rupanya bisa memberikan suguhan kopi yang khas dan menata kreativitas ruangan dengan cerdik. Ngopi?  Yuk….RM.Foto: dok Ruangopi

read more
Travel

Omah Petroek

petruk-17

Petroek, salah satu panakawan dalam cerita wayang  menjadi nama sebuah tempat di kawasan Kaliurang. Ini adalah area  yang dipenuhi pohon  bambu ‘raksasa’ dan gemerisik daunnya yang tertiup angin menyegarkan suasana nyaman di tempat rindang itu.

Tempat yang luas ini terdiri dari beberapa bangunan  mencerminkan keragaman  budaya  dan  agama  seperti Mushola, kelenteng mini, tempat ibadat orang Kristen dan Katolik. Di sana sini dihadirkan  patung patung  yang memberi asosiasi pada sosok  atau lambang  tertentu seperti patung perempuan yang mempunyai 8 payudara, agaknya untuk melambangkan  kemampuan  perempuan  dalam  menunjang  kehidupan sejak awal. Tentu ini opini pribadi  karena saat itu tak ada yang memberi keterangan tentang arti patung tersebut.

Di depan Mushola, patung  Gus Dur yang sangat mirip dengan sosok sebenarnya, nampak  duduk di bangku dan sebuah  cangkir kaleng  diletakkan di sebelah patung tersebut. Ini adalah spot yang banyak dipakai pengunjung untuk berfoto di tempat itu.  Ekspresi patung tersebut seolah Gus Dur sedang menceritakan kisah kisah humor yang menjadi ciri khasnya.

Pengunjung memang bisa memakai tempat  itu untuk pertemuan atau acara kebersamaan lainnya  asalkan  terdiri dari minimum 30 orang. Berbagai rombongan dari beragam latar belakang , pernah memakai tempat ini.

Mereka  yang  ingin  tempat dan suasana yang sepi  dan  keteduhan rimbun pepohonan , Omah  Petruk bisa menjadi  pilihhan yang tepat.  Foto: RM

read more
Fashion

Kain Kain Obin

Obin-oke-bangt

Berseliweran model model yang bergerak lincah di atas catwalk  memeragakan atasan dan kainnya Obin – Josephine Kumara – yang sungguh indah. Kain batik, kain tenun  dari rumah  Obin selalu memikat mata yang memandang.  Berkain  dan ‘melayang ‘ dalam gerak bak menari membuat mata mengikuti para model yang meski berkain, memakai sepatu santai,  membuat beberapa penonton senior bereaksi, “kok pakai sepatu seperti itu toh? Kan  lebih baik memakai sandal ?”  Yah, mungkin mengantisipasi kaum milenial agar  leluasa bergerak, meski memakai sepatu santai, berkain pun bisa jadi  padanannya.

Berbagai motif dan kain kain unggulan dari rumah Obin  menambah deretan peragaan busana  untuk memeriahkan Jakarta Fashion Week 2019 akhir Oktober  lalu.  Digelar di Senayan City, Jakarta, mereka yang hadir pada peragaan siang itu seolah terpuaskan dengan ragam tampilan  rumah Obin yang tak pernah kehabisan ide dalam menghasilkan motif baru yang memenuhi selera penggemar batik dengan motif artistik dan kualitas prima. Foto: RM

read more
Info

Menyandang Gelar Kota Batik Dunia

tari-1

Yogyakarta. Tanggal 2  hingga 6 Oktober,  Yogya menggelar  Jogya International Batik  Biennale (JIBB) 2018.  Dinobatkan oleh’ World Craft Council’ sebagai  The World Batik City, melalui kriteria yang seksama, Yogya memang pantas untuk berhelat. Di awal,  digelar 2 hari simposium, simposium Nasional dan Internasional. Hari kedua  ditandai dengan hadirnya dua keynote speaker  yaitu  Gubernur DIY  Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Gubernur Jawa Tengah,  Ganjar Pranowo

Ketua Dekranasda Yogya, GKR Hemas,  setelah peserta dihibur dengan tarian ‘Golek Ayun ayun’  kemudian memberi arahan   dalam sambutannya  dan setelahnya memukul gong sebagai tanda diawalinya  kegiatan simposium dan aktivitas JIBB. Yogya  selama  5 hari akan berhelat dengan beberapa program selain simposium, juga kunjungan ke perajin batik di daerah Gunung Kidul dan  Imogiri  serta penerangan dan panduan tentang pewarna alam.

Beberapa pameran diselenggarakan di gedung gedung yang mempunyai nilai budaya  dan merupakan heritage. Pameran interior batik diadakan  di gedung Bank Indonesia,  pameran ragam batik dan penjualannya ada  di benteng Vredeburg dan Taman Budaya, dan koleksi batik batik kuno dipamerkan di Sono Budoyo.

Pada hari kedua, di pagelaran Keraton  JIBB dibuka secara resmi oleh Menetri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi  mewakili Presiden  Jokowi yang saat itu sedang berada di Donggala, dan ditandai dengan torehan canting batik oleh Dr Ghada Hijjawi, President World Craft Council, Asia Pasifik dilanjutkan dengan melihat lihat  pameran ragam batik   di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Tentu saja peragaan busana batik juga memeriahkan perhelatan ini  dengan beberapa tema, selain batik modern juga batik klasik yang di padu padan dengan kebaya dan pemakaian sanggul.

Hari Sabtu, tanggal 6 Karnaval Batik  yang dilombakan dalam beberapa kategori kreativitas diselenggarakan sepanjang jalan Malioboro.   Acara pengumuman lomba dan pergelaran busana  malam harinya  mengakhiri perhelatan  Jogya International Batik  Biennale (JIBB) DIY,  yang dilakukan  oleh Ketua Dekranasda DIY , GKR Hemas.  JIBB akan digelar lagi dua tahun mendatang. RM.Foto.RM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

read more
1 2 3 5
Page 1 of 5