close

admin

Info

Seni dari Yogya

art-7

 

Yogya selalu lekat dengan seni. Juga tentang Pameran Seni Kontemporer. Pameran ini juga disbeut  terbesar. Jadi seperti apakah pameran seni ini?

read more
Travel

Berpelukan…

tele-2,jpg-fp

Kata ‘berpelukan…’ itu yang selalu ada dalam adegan film Teletubies… Kurcaci kurcaci  imut berwarna warni itu di desa Nglepen, wilayah Prambanan ,  Yogya,  Boko tampil sebagai rumah rumah penduduk. Ya, rumah dalam bentuk ‘dome’ seperti bentuk Iglo,  rumah  Eskimo di kutub utara. Hanya rumah – rumah di  wilayah ini di cat warna warni dan tokoh teletubies jadi penanda.

Awalnya rumah rumah yang dibangun dengan bantuan ‘Domes for the World’ lembaga bantuan dari Amerika Serikat ini  terjadi usai  gempa hebat yang melanda Yogya khususnya Yogya  Selatan, 2006 lalu. Mereka mendirikan rumah- rumah yang dimaksudkan sebagai rumah  yang  tahan gempa karena dibangun dengan kosntruksi  khusus.

Adalah ide kreatif untuk membuat rumah rumah yang awalnya hanya berwarna putih itu diberi ikon teletubies lengkap dengan warna warninya. Barangkali karena dalam film teletubies, rumah para kurcaci imut itu berbentuk serupa. Mudah mengenalinya.  Daerah ini lalu dimaksudkan sebagai tujuan wusata bagi mereka yang ingin berkunjung atau bahkan menginap di beberapa rumah teletubies ini.  Rumah rumah yang lain tetap berfungsi sebagai rumah penduduk biasa.

Dikelilingi bukit bukit sepanjang daerah selatan Yogya, daerah ini nyaman bila pagi atau sore hari, hanya  terik matahari di waktu siang yang kurang menguntungkan. Tetapi mencoba mengunjungi  atau bahkan menginap di beberapa rumah teletubies yang disewakan  ini  bisa jadi  pengalaman unik. Yuk,,berpelukan… RM Foto: RM, dok image source.

read more
Kain

Lurik & Batik Gaya Edo

edward baru 17

Edward Hutabarat atau Edo menggelar peragaan busana khusus Lurik, pertengahan tahun lalu.  Di tangan Edo, lurik tampil dengan indah dalam berbagai style. Lurik, tampil modern, sesuai tampilan masa kini.Peragaan busana ini dibarengi dengan pameran tentang tenun ikat,  23 sd 28 Agustus 2017 dan diselenggarakan di Pelataran Ramayana  Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Dalam desain busana Batik, puluhan tahun Edo bergerak dan konsisten dengan Batik dalam berbagai rancangan busananya. Batik lagi -lagi di tangan Edo tampil eksklusif, tetap dengan motif klasik, kreativitas motif  dengan tetap mengacu pada kekhasan batik dan tentu saja dalam tampilan kekinian

Menghargai kain-kain tradisional, Edo  membuat karya negeri sendiri ini bisa mendunia. Foto. dok koleksi Edo.

read more
Kuliner

Gudeg Maktekluk

gudeg-2-fp,jpg
Antrean panjang tengah malam

Yogya memang kota gudeg. Tapi gudeg maktekluk, apa pula itu ? Dalam bahasa Jawa, ‘tekluk’ itu biasanya dikaitkan  dengan rasa ngantuk. Kalau disebut “mak tekluk” adalah saat seseorang hampir jatuh tertidur pada posisi di luar tempat tidur, biasanya sambil duduk tidak sengaja tertunduk tertidur dengan  gerakan kepala yang tiba tiba ‘jatuh’ ke bawah. Itulah yang sering disebut ‘mak tekluk..’

read more
Chitchat

Saya & Dia

sari-2

Ya, kami mulai sering bersama saat masing masing menjadi Pemimpin Redaksi majalah majalah terkemuka. Mbak Sari Narulita, yang terakhir menjadi Pemimpin Redaksi Her World  sering bertemu dan berteman seperjalan tugas ke luar negeri bersama saya semasa menjabat Pemimpin Redaksi majalah fashion& lifestyle, dewi. Setelah masing-masing bebas tugas, kami juga masih sering bersama apa lagi rumah kami berada pada satu wilayah.

Kami juga membuat acara fun and relax antara lain ‘Melody Memory’ mengingatkan  lagu lagu kenangan bersama para teman teman dari dunia perhotelan maupun pebisnis lainnya. Yang juga menarik karena mbak Sari adalah seorang penulis novel. Buku-bukunya sudah banyak beredar dan uniknya beberapa berlokasi di Indonesia Timur.  Selain “Bila Cengkeh Berbunga”, yang terakhir ini adalah “Cintaku di Lembata.” Wilayah di pulau Nusa Tenggara Timur ini, seolah terlupakan. Sebagai bagian dari KOPIT, Komunitas Pencinta Indonesia Timur, buku Sari Narulita yang terakhir ini memancing banyak perhatian. Selain launching beberapa kali, isi buku ini juga sejalan dengan program Kementrian Pariwisata tentang Indonesia Timur termasuk Lembata.

Belum lama ini pada akhir April di ArtOtel, Yogyakarta, sebuah hotel menarik di jalan Kaliurang, menjadi tempat berkumpulnya pada sastrawan dan mahasiswa  Yogya untuk membahas buku ini. Yang menarik dalam buku ini tokoh wanita Kayla dari ibukota yang bersambung rasa dengan sosok penduduk Lembata, yang dicirikan dengan panggilan kesayangan Gringgo menjadi pembicaraan khusus para pembaca buku ini.  Adakah ini sosok sebenarnya atau hanya khayalan?  Kisah perjalanan dan percintaan mereka sangat manis dengan menceritakan juga  masalah adat dan budaya yang ada di daerah Lembata. Seorang putra daerah asli Lembata, Ambrosius H Kernas, dalam diskusi  buku tersebut bahkan berucap “Saya jadi melihat daerah saya sendiri dengan kaca mata berbeda. Dan akhirnya merasa harus melihat kembali tempat itu,” kata Ambrosius  yang kini sedang mengambil gelar S2nya di UGM.

Dalam chitchat ini saya memang tidak membedah isi buku tersebut tetapi lebih pada  pertemanan kami yang bisa terus berlanjut setelah bertahun tahun lekat sebagai wartawan dan kini sebagai teman yang tak pernah berhenti beraktivitas. Saya hadir dalam acara itu bersama kakak,  seorang novelis juga Maria A Sardjono yang juga teman sesama penulis mbak Sari di komunitas AKSARA.  Acara berlangsung serius tetapi santai, dengan pembicara dosen sastra UGM,  Dr Wiyatmi M.Hum, Ambrosius H Kernas dengan moderator Wahyudi Djaya.

Moral of the story (MOS) dari hal ini adalah usia boleh terus menanjak dalam senioritas tapi tak boleh berhenti berkarya dalam bidang apa saja. Dalam hal ini mbak Sari, saya dan dia, punya gerak rasa yang sama.  ( Retno Murti ) Foto.RM & dok acara diskusi bedah buku.

 

read more
Chitchat

Dialog

Dialog-RM-1

Apa sih yang menarik dalam suatu dialog? Kalau pembicaraannya tentang sesuatu yang sedang menjadi perhatian masyarakat saat itu. Begitu mestinya. Dan dalam suatu acara  seminar tentang batik,  di mana saya berhadapan dengan Bapak Rahadi Ramelan, sesepuh Yayasan Batik Indonesia, dialog itu jadi ‘hidup’. Masalahnya Pak Rahadi ini mempunyai latar belakang pengetahuan yang luas tentang batik. Jadi kami bicara tentang presentasi  kain kain batik dan segala sesuatu yang berbahan batik dengan sangat  ‘seru’.

Batik itu yang selalu berhubungan dengan malam atau wax. Ada proses pengerjaan  dengan canting atau cap dan proses melorot (menghilangkan malam sebagai ‘perintang,’ dan  menghasilkan warna yang diinginkan). Sekalipun motif batiknya dibuat dengan motif tradisional atau motif motif batik yang banyak diketahui umum seperti motif parang, misalnya, kalau dikerjakan di pabrik tesktil dengan cara printing, itu namanya tetap tekstil bermotif batik, dan bukan batik. Itu salah satu dialog kami saat itu.

Diskusi tentang hal ini di masyarakat masih sering jadi polemik  karena  ada juga pendapat yang menyatakan bahwa harga yang murah seperti tekstil bermotif batik buatan pabrik itu terjangkau oleh masyarakat luas  karena harganya sangat terjangkau, dibanding batik cap apalagi batik tulis.  Diskusi tentang ini juga menjadi lebih seru bila berhadapan dengan pakar batik lainnya, Ibu Suliantoro Sulaiman yang sayang sedang dalam pemulihan dari sakit beliau. Dulu Ibu sering ‘menantang’,  “Lho batik tulis, tulis, lho ya, bukan cap, juga ada yang sangat terjangkau bagi masyarakat luas.”

Kami kemudian membincangkan bahwa tentu tergantung bahan yang dipakai dan proses pengerjaan motifnya  sehingga ada batik yang memang mahal tetapi agaknya beliau lebih ingin menekankan bahwa batik kita adalah batik yang oleh UNESCO diakui sebagai ‘warisan budaya tak benda’ karena filosofi dan proses pengerjaannya yang telah berlaku secara turun temurun sejak ratusan tahun. Sebagai salah satu ‘pejuang’ yang dengan gigih memperjuangkan batik sebagai warisan budaya, yang juga diperebutkan oleh negara negara Asia lain, terutama Malaysia, yang mempunyai batik, tentu bisa difahami mengapa Ibu Suliantoro gigih dengan pendapatnya. Beliau berharap agar banyak masayarakat juga  memahami hal itu.

Diskusi tentang batik yang semakin lama semakin menjadi kain atau busana yang lekat dengan masyarakat memang selalu hangat, sehangat dialog saya dengan Pak Rahadi Ramelan saat itu..( Retno Murti)  

Apa pendapat Anda tentang hal ini?  ( fashionpromag7@gmail.com)

read more
Info

Kisah Lasem

Lasem-2-pas-

Batik Lasem, batik pesisir yang terkenal itu rupanya bisa diangkat dalam kisah drama yang menarik.  Di latar belakangi perseteruan diantara  tokoh tokoh persaingan bisnis batik diselingi dengan percintaan, kisah Batik Lasem ini di tata dengan apik pada alur cerita yang dibumbui dengan humor pula. Paduan suara ‘Sanata Darma’ yang menggugah rasa,  membuat pertunjukan ini jadi lebih berjiwa. Meski tidak semua pemain melakoni perannya dengan baik tetapi pesan yang ada dalam drama ini toh tersampaikan.

Menarik bahwa kostum dalam drama ini ditata dan dihadirkan oleh perancang senior yang terkenal dengan desain desainnya  yang elegan, Harry Darsono. Diselenggarakan di Yogya pada pertengahan tahun lalu, pertunjukan ini menarik banyak penonton. RM/Foto RM

read more
Kain

Adiwastra & Kekinian

20180415_100705-1

Ingin melihat ragam dan beraneka kain kain wastra Adati? Para pencinta wastra tradisional pasti akan dapat melihat kain kain adati Nusantara ini dalam pameran Adiwastra Nusantara. April lalu selama 5 hari penuh Jakarta Covention Center (JCC ) dipenuhi dengan ragam kain kain Nusantara, baik berupa kain  kain batik maupun kain tenun dari berbagai wilayah di negeri kita.

Tema tahun ini adalah ‘Nuansa Kekinian dalam Wastra Adati Nusantara’. Ini bisa disimpulkan dalam makna berbagi bentuk. Dari  kain kain unggulan yang sering dijumpai para pengamat kain dalam kain batik maupun tenun yang cukup langka. Begitupun  makna  kekinian adalah kain kain Nusantara itu tidak hanya menjadi koleksi kain semata tetapi juga tampil dalam berbagai inovasi dari  ragam busana, interio, aksesori bahkan suvenir dan berbagai inovasi bentuk lainnya. Ini sesuai dengan alam kreativitas yang  makin digalakkan tahun tahun belakangan ini.

Diikuti pebisnis dan UKM  kain serta aksesori sebanyak sekitar 400 peserta dengan  30 % perajin daerah memberi peluang untuk peningkatan ekonomi yang semakin luas. Yang menarik dalam Adiwastra ini juga diadakan lomba  ‘Selendang Indonesia’, memberi peluang bagi para kreator untuk mewujudkan selendang sebagai bentuk khas Indonesia  dalam batik maupun tenun  yang menghasilkan pemenang pemenang  dalam beberapa kategori. Selendang  adalah budaya kita yang biasa digunakan dalam berbagai kesempatan namun juga  bisa dijadikan sebagai suvenir yang sangat praktis dibawa ke mana mana termasuk ke luar negeri.

Adiwastra yang secara konsisten sudah dilakukan selama 11 kali sejak tahun 2008  memberi arti keseriusan penyelenggara, khususnya  Ibu Edith Ratna dan team penggagas Adiwastra agar kecintaan pada wastra kita tak pernah padam bahkan makin menyala. RM/foto RM.

read more
Info

Temu Kangen

IFW-7model-2

Sungguh menyenangkan bertemu kawan-kawan lama yang dulu sering berjumpa tetapi karena kesibukan masing-masing  lama tak bersua. Itulah yang terjadi saat perhelatan Indonesia Fashion Week 2018  di Jakarta Convention Center ( JCC) . Gebyar mode tahunan ini memang tak cuma memajang karya-karya pebisnis mode dan para perancangnya tetapi juga menghadirkan  beragam show busana dan … itu tadi,  pertemuan dengan banyak teman yang lama tak berjumpa. Temu kangen lah… RM

read more
Travel

Santai di Pantai Ayah

pantai 15,jpg

Meskipun Yogyakarta semakin lama semakin diminati menjadi tujuan wisata, kali ini saya ingin berbagi  bukan tentang wilayah Yogya dan sekitarnya tetapi mengenai apa saja yang kita jumpai bila bepergian dari Jakarta ke Yogya melalui jalan darat.  Bermobil menuju Yogya memang bisa dilalui melalui utara atau selatan. Saya pilih lewat selatan yang meskipun lebih lama waktu perjalanannya dibanding lewat utara yang disebut Pantura (pantai utara)  tetapi memiliki pemandangan yang lebih elok.  Arah selatan setelah lepas dari jalan Tol Cikampek kita menuju ke arah Bandung tidak masuk ke kotanya hanya di lingkar luar lalu menuju daerah Nagrek, Tasikmalaya dan seterusnya.

Bila kita sudah berangkat sejak pukul 5 pagi ada tempat untuk break sejenak menjelang Nagreg. Tempat ngopi ini cukup nyaman dengan pemandangan ke arah ‘hutan’ pinus yang datarannya dilengkapi ayunan  yang bisa dipergunakan bila kita membawa anak kecil. Toiletenya pun terbilang bersih. Selain kopi ada juga mie instan atau makanan kecil lain.  Cukuplah untuk istirahat sejenak. Makan siang bisa dipilih disepanjang jalan, banyak pilihan dari warung sederhana, resto menengah seperti Resto Resik sebelum Tasilmalaya  sampai restoran yang cukup mahal.

Bila ingin langsung ke Yogya biasanya lewat jalan utama melalui Kebumen menuju Ketanggungan dan kemudian Purworedjo sebelum masuk ke Wates yang berada di wilayah  Yogya. Hanya kali ini saya ingin memperlihatkan suatu tempat di pantai di wilayah Kebumen yang sangat sederhana, merupakan pantai masyarakat setempat yang menarik untuk tempat singgah. Menarik, karena justru dari kesederhanaan itulah suasana alami terasa lebih memberi arti.

Jalan menuju ke pantai  ‘Ayah Logending’  itu melewati jalan yang menanjak dan berliku tetapi cukup aman. Inilah salah satu pantai dari sekitar 10 pantai  di wilayah Kebumen yang sudah dikelola penduduk untuk tempat wisata. Menuju ke tempat itu kita bisa melihat dari atas sepanjang lekukan pantai selatan yang indah. Di pantai itu yang diberi bangku-bangku bambu  sederhana kita bisa menikmati pemandangan lepas ke arah pantai atau bukit bukit yang mengelilinginya. Menjelang sore, saat matahari mulai lengser, dibelai angin pantai di dekat warung setempat, pemandangan sun set ini begitu indah.  Kita bisa duduk sambil minum es kelapa muda dan mendoan khas Kebumen yang gurih meski terasa berminyak.

Yah…banyak tempat wisata yang tertata rapi, dikelola secara profesional dan tentu saja tidak murah, tetapi santai menikmati pantai alami dengan kesederhanaan penduduk dan pengelolaannya, merupakan penglaman menarik juga. Di pasir,  di salah satu sudut, anak-anak asyik bermain permainan tradisional ‘engklek’.  Permainan ini dilakukan dengan membuat kotak bergaris seperti bentuk palang, lalu masing-masing memiliki ‘gaco’ (biasanya dari pecahan genteng).  Setelah dilempar ke salah satu kotak mereka harus bisa mengambilnya  namun dengan melompat  menggunakan satu kaki saja dan inilah yang disebut ‘engklek’. Pemenangnya adalah siapa yang bisa melempar dan mengambil semua gaco tanpa jatuh dengan kedua kaki.

Melihat suasana sekitar dan kesederhanaan penduduk desa, merupakan bentuk pemandangan  lain dari pemandangan yang bisa kita lihat di kota besar. Pengalaman inilah yang saya sebut bisa mengisi jiwa kita dengan  value yang berbeda…. RM.foto:RM

 

read more
1 2 3 4
Page 3 of 4