close

admin

Chitchat

Saya & Dia

sari-2

Ya, kami mulai sering bersama saat masing masing menjadi Pemimpin Redaksi majalah majalah terkemuka. Mbak Sari Narulita, yang terakhir menjadi Pemimpin Redaksi Her World  sering bertemu dan berteman seperjalan tugas ke luar negeri bersama saya semasa menjabat Pemimpin Redaksi majalah fashion& lifestyle, dewi. Setelah masing-masing bebas tugas, kami juga masih sering bersama apa lagi rumah kami berada pada satu wilayah.

Kami juga membuat acara fun and relax antara lain ‘Melody Memory’ mengingatkan  lagu lagu kenangan bersama para teman teman dari dunia perhotelan maupun pebisnis lainnya. Yang juga menarik karena mbak Sari adalah seorang penulis novel. Buku-bukunya sudah banyak beredar dan uniknya beberapa berlokasi di Indonesia Timur.  Selain “Bila Cengkeh Berbunga”, yang terakhir ini adalah “Cintaku di Lembata.” Wilayah di pulau Nusa Tenggara Timur ini, seolah terlupakan. Sebagai bagian dari KOPIT, Komunitas Pencinta Indonesia Timur, buku Sari Narulita yang terakhir ini memancing banyak perhatian. Selain launching beberapa kali, isi buku ini juga sejalan dengan program Kementrian Pariwisata tentang Indonesia Timur termasuk Lembata.

Belum lama ini pada akhir April di ArtOtel, Yogyakarta, sebuah hotel menarik di jalan Kaliurang, menjadi tempat berkumpulnya pada sastrawan dan mahasiswa  Yogya untuk membahas buku ini. Yang menarik dalam buku ini tokoh wanita Kayla dari ibukota yang bersambung rasa dengan sosok penduduk Lembata, yang dicirikan dengan panggilan kesayangan Gringgo menjadi pembicaraan khusus para pembaca buku ini.  Adakah ini sosok sebenarnya atau hanya khayalan?  Kisah perjalanan dan percintaan mereka sangat manis dengan menceritakan juga  masalah adat dan budaya yang ada di daerah Lembata. Seorang putra daerah asli Lembata, Ambrosius H Kernas, dalam diskusi  buku tersebut bahkan berucap “Saya jadi melihat daerah saya sendiri dengan kaca mata berbeda. Dan akhirnya merasa harus melihat kembali tempat itu,” kata Ambrosius  yang kini sedang mengambil gelar S2nya di UGM.

Dalam chitchat ini saya memang tidak membedah isi buku tersebut tetapi lebih pada  pertemanan kami yang bisa terus berlanjut setelah bertahun tahun lekat sebagai wartawan dan kini sebagai teman yang tak pernah berhenti beraktivitas. Saya hadir dalam acara itu bersama kakak,  seorang novelis juga Maria A Sardjono yang juga teman sesama penulis mbak Sari di komunitas AKSARA.  Acara berlangsung serius tetapi santai, dengan pembicara dosen sastra UGM,  Dr Wiyatmi M.Hum, Ambrosius H Kernas dengan moderator Wahyudi Djaya.

Moral of the story (MOS) dari hal ini adalah usia boleh terus menanjak dalam senioritas tapi tak boleh berhenti berkarya dalam bidang apa saja. Dalam hal ini mbak Sari, saya dan dia, punya gerak rasa yang sama.  ( Retno Murti ) Foto.RM & dok acara diskusi bedah buku.

 

read more
Chitchat

Dialog

Dialog-RM-1

Apa sih yang menarik dalam suatu dialog? Kalau pembicaraannya tentang sesuatu yang sedang menjadi perhatian masyarakat saat itu. Begitu mestinya. Dan dalam suatu acara  seminar tentang batik,  di mana saya berhadapan dengan Bapak Rahadi Ramelan, sesepuh Yayasan Batik Indonesia, dialog itu jadi ‘hidup’. Masalahnya Pak Rahadi ini mempunyai latar belakang pengetahuan yang luas tentang batik. Jadi kami bicara tentang presentasi  kain kain batik dan segala sesuatu yang berbahan batik dengan sangat  ‘seru’.

Batik itu yang selalu berhubungan dengan malam atau wax. Ada proses pengerjaan  dengan canting atau cap dan proses melorot (menghilangkan malam sebagai ‘perintang,’ dan  menghasilkan warna yang diinginkan). Sekalipun motif batiknya dibuat dengan motif tradisional atau motif motif batik yang banyak diketahui umum seperti motif parang, misalnya, kalau dikerjakan di pabrik tesktil dengan cara printing, itu namanya tetap tekstil bermotif batik, dan bukan batik. Itu salah satu dialog kami saat itu.

Diskusi tentang hal ini di masyarakat masih sering jadi polemik  karena  ada juga pendapat yang menyatakan bahwa harga yang murah seperti tekstil bermotif batik buatan pabrik itu terjangkau oleh masyarakat luas  karena harganya sangat terjangkau, dibanding batik cap apalagi batik tulis.  Diskusi tentang ini juga menjadi lebih seru bila berhadapan dengan pakar batik lainnya, Ibu Suliantoro Sulaiman yang sayang sedang dalam pemulihan dari sakit beliau. Dulu Ibu sering ‘menantang’,  “Lho batik tulis, tulis, lho ya, bukan cap, juga ada yang sangat terjangkau bagi masyarakat luas.”

Kami kemudian membincangkan bahwa tentu tergantung bahan yang dipakai dan proses pengerjaan motifnya  sehingga ada batik yang memang mahal tetapi agaknya beliau lebih ingin menekankan bahwa batik kita adalah batik yang oleh UNESCO diakui sebagai ‘warisan budaya tak benda’ karena filosofi dan proses pengerjaannya yang telah berlaku secara turun temurun sejak ratusan tahun. Sebagai salah satu ‘pejuang’ yang dengan gigih memperjuangkan batik sebagai warisan budaya, yang juga diperebutkan oleh negara negara Asia lain, terutama Malaysia, yang mempunyai batik, tentu bisa difahami mengapa Ibu Suliantoro gigih dengan pendapatnya. Beliau berharap agar banyak masayarakat juga  memahami hal itu.

Diskusi tentang batik yang semakin lama semakin menjadi kain atau busana yang lekat dengan masyarakat memang selalu hangat, sehangat dialog saya dengan Pak Rahadi Ramelan saat itu..( Retno Murti)  

Apa pendapat Anda tentang hal ini?  ( fashionpromag7@gmail.com)

read more
Info

Kisah Lasem

Lasem-2-pas-

Batik Lasem, batik pesisir yang terkenal itu rupanya bisa diangkat dalam kisah drama yang menarik.  Di latar belakangi perseteruan diantara  tokoh tokoh persaingan bisnis batik diselingi dengan percintaan, kisah Batik Lasem ini di tata dengan apik pada alur cerita yang dibumbui dengan humor pula. Paduan suara ‘Sanata Darma’ yang menggugah rasa,  membuat pertunjukan ini jadi lebih berjiwa. Meski tidak semua pemain melakoni perannya dengan baik tetapi pesan yang ada dalam drama ini toh tersampaikan.

Menarik bahwa kostum dalam drama ini ditata dan dihadirkan oleh perancang senior yang terkenal dengan desain desainnya  yang elegan, Harry Darsono. Diselenggarakan di Yogya pada pertengahan tahun lalu, pertunjukan ini menarik banyak penonton. RM/Foto RM

read more
Kain

Adiwastra & Kekinian

20180415_100705-1

Ingin melihat ragam dan beraneka kain kain wastra Adati? Para pencinta wastra tradisional pasti akan dapat melihat kain kain adati Nusantara ini dalam pameran Adiwastra Nusantara. April lalu selama 5 hari penuh Jakarta Covention Center (JCC ) dipenuhi dengan ragam kain kain Nusantara, baik berupa kain  kain batik maupun kain tenun dari berbagai wilayah di negeri kita.

Tema tahun ini adalah ‘Nuansa Kekinian dalam Wastra Adati Nusantara’. Ini bisa disimpulkan dalam makna berbagi bentuk. Dari  kain kain unggulan yang sering dijumpai para pengamat kain dalam kain batik maupun tenun yang cukup langka. Begitupun  makna  kekinian adalah kain kain Nusantara itu tidak hanya menjadi koleksi kain semata tetapi juga tampil dalam berbagai inovasi dari  ragam busana, interio, aksesori bahkan suvenir dan berbagai inovasi bentuk lainnya. Ini sesuai dengan alam kreativitas yang  makin digalakkan tahun tahun belakangan ini.

Diikuti pebisnis dan UKM  kain serta aksesori sebanyak sekitar 400 peserta dengan  30 % perajin daerah memberi peluang untuk peningkatan ekonomi yang semakin luas. Yang menarik dalam Adiwastra ini juga diadakan lomba  ‘Selendang Indonesia’, memberi peluang bagi para kreator untuk mewujudkan selendang sebagai bentuk khas Indonesia  dalam batik maupun tenun  yang menghasilkan pemenang pemenang  dalam beberapa kategori. Selendang  adalah budaya kita yang biasa digunakan dalam berbagai kesempatan namun juga  bisa dijadikan sebagai suvenir yang sangat praktis dibawa ke mana mana termasuk ke luar negeri.

Adiwastra yang secara konsisten sudah dilakukan selama 11 kali sejak tahun 2008  memberi arti keseriusan penyelenggara, khususnya  Ibu Edith Ratna dan team penggagas Adiwastra agar kecintaan pada wastra kita tak pernah padam bahkan makin menyala. RM/foto RM.

read more
Info

Temu Kangen

IFW-7model-2

Sungguh menyenangkan bertemu kawan-kawan lama yang dulu sering berjumpa tetapi karena kesibukan masing-masing  lama tak bersua. Itulah yang terjadi saat perhelatan Indonesia Fashion Week 2018  di Jakarta Convention Center ( JCC) . Gebyar mode tahunan ini memang tak cuma memajang karya-karya pebisnis mode dan para perancangnya tetapi juga menghadirkan  beragam show busana dan … itu tadi,  pertemuan dengan banyak teman yang lama tak berjumpa. Temu kangen lah… RM

read more
Travel

Santai di Pantai Ayah

pantai 15,jpg

Meskipun Yogyakarta semakin lama semakin diminati menjadi tujuan wisata, kali ini saya ingin berbagi  bukan tentang wilayah Yogya dan sekitarnya tetapi mengenai apa saja yang kita jumpai bila bepergian dari Jakarta ke Yogya melalui jalan darat.  Bermobil menuju Yogya memang bisa dilalui melalui utara atau selatan. Saya pilih lewat selatan yang meskipun lebih lama waktu perjalanannya dibanding lewat utara yang disebut Pantura (pantai utara)  tetapi memiliki pemandangan yang lebih elok.  Arah selatan setelah lepas dari jalan Tol Cikampek kita menuju ke arah Bandung tidak masuk ke kotanya hanya di lingkar luar lalu menuju daerah Nagrek, Tasikmalaya dan seterusnya.

Bila kita sudah berangkat sejak pukul 5 pagi ada tempat untuk break sejenak menjelang Nagreg. Tempat ngopi ini cukup nyaman dengan pemandangan ke arah ‘hutan’ pinus yang datarannya dilengkapi ayunan  yang bisa dipergunakan bila kita membawa anak kecil. Toiletenya pun terbilang bersih. Selain kopi ada juga mie instan atau makanan kecil lain.  Cukuplah untuk istirahat sejenak. Makan siang bisa dipilih disepanjang jalan, banyak pilihan dari warung sederhana, resto menengah seperti Resto Resik sebelum Tasilmalaya  sampai restoran yang cukup mahal.

Bila ingin langsung ke Yogya biasanya lewat jalan utama melalui Kebumen menuju Ketanggungan dan kemudian Purworedjo sebelum masuk ke Wates yang berada di wilayah  Yogya. Hanya kali ini saya ingin memperlihatkan suatu tempat di pantai di wilayah Kebumen yang sangat sederhana, merupakan pantai masyarakat setempat yang menarik untuk tempat singgah. Menarik, karena justru dari kesederhanaan itulah suasana alami terasa lebih memberi arti.

Jalan menuju ke pantai  ‘Ayah Logending’  itu melewati jalan yang menanjak dan berliku tetapi cukup aman. Inilah salah satu pantai dari sekitar 10 pantai  di wilayah Kebumen yang sudah dikelola penduduk untuk tempat wisata. Menuju ke tempat itu kita bisa melihat dari atas sepanjang lekukan pantai selatan yang indah. Di pantai itu yang diberi bangku-bangku bambu  sederhana kita bisa menikmati pemandangan lepas ke arah pantai atau bukit bukit yang mengelilinginya. Menjelang sore, saat matahari mulai lengser, dibelai angin pantai di dekat warung setempat, pemandangan sun set ini begitu indah.  Kita bisa duduk sambil minum es kelapa muda dan mendoan khas Kebumen yang gurih meski terasa berminyak.

Yah…banyak tempat wisata yang tertata rapi, dikelola secara profesional dan tentu saja tidak murah, tetapi santai menikmati pantai alami dengan kesederhanaan penduduk dan pengelolaannya, merupakan penglaman menarik juga. Di pasir,  di salah satu sudut, anak-anak asyik bermain permainan tradisional ‘engklek’.  Permainan ini dilakukan dengan membuat kotak bergaris seperti bentuk palang, lalu masing-masing memiliki ‘gaco’ (biasanya dari pecahan genteng).  Setelah dilempar ke salah satu kotak mereka harus bisa mengambilnya  namun dengan melompat  menggunakan satu kaki saja dan inilah yang disebut ‘engklek’. Pemenangnya adalah siapa yang bisa melempar dan mengambil semua gaco tanpa jatuh dengan kedua kaki.

Melihat suasana sekitar dan kesederhanaan penduduk desa, merupakan bentuk pemandangan  lain dari pemandangan yang bisa kita lihat di kota besar. Pengalaman inilah yang saya sebut bisa mengisi jiwa kita dengan  value yang berbeda…. RM.foto:RM

 

read more
Travel

Meninjau Bumi Langit

bumi-2

Yogya Selatan. Menuju arah Imogiri, kita bisa menuju satu tempat yang disebut Bumi Langit. Ini adalah tempat di mana semua yang kita rasakan, alami dan makan adalah bahan alami.  Hasil masakan berasal dari olahan bumi sendiri. Sebagai contoh, pembuatan roti memakai bahan gandum alami tanpa campuran apa pun, minuman segar dari kembang telang denga rasa soda yang diproduksi dengan bahan alami pula, juice mulberry, juga madu alami, makanan kecil, dari kacang hingga pisang dan berbagai kripik juga  hasil bertanam sendiri. Tidak hanya makanan dan minuman dari tanaman  alami, tetapi juga peralatan sehari-hari seperti sisir, alat kerokan dari tanduk kerbau. Tempat ini milik Iskandar Woworuntu yang juga menjadi ‘sekolah’ bagi  mereka yang ingin belajar mengolah tanah pertanian tanpa bahan kimia. Magang di tempat ini banyak dilakukan anak anak muda.

Perjalanan menuju ke ‘Bumi Langit’  yang terletak di atas bukit melewati jalan berkelok yang tikungan dan tanjakannya perlu  dilakukan dengan hati hati. Di kiri kanan pohon-pohon ketapang dan pohon jati menjadi bagian pemandangan menuju ke tempat itu.  Dari Bumi Langit, kita justru bisa melihat nun jauh di bawah makam Raja-raja Jawa, makam Imogiri.  Bagi mereka yang suka dengan semua yang serba alami, tempat ini adalah tempat menarik. Duduk di terasnya sambil menikmati makanan dan minuman sehat , sambil menghirup udara segar adalah ‘sesuatu…’ RM/foto:RM, google pic.

read more
Sosok

Diplomat Kuliner

WW-baru-

 Nama William Wongso, pakar kuliner, food expert, tidak saja dikenal di Tanah Air tetapi juga di dunia. Bukunya, Flavors of Indonesia  mendapat  ‘Gourmand World Cookbook Awards’  yang bisa diartikan bagai Oscar di dunia perfilman. Memperkenalkan makanan tradisional Indonesia  yang ditampilkan secara jelas, latar belakang, bahan dan cara pembuatannya  sungguh membuat masakan Indonesia makin dikenal di manca negara. Aktivitas ini adalah bagian dari kecintaan William pada masakan negeri sendiri. Begitu banyak masakan kita dari berbagai daerah dengan aneka keragaman citarasa tetapi tak banyak yang dikenal di dunia luar, katanya suatu waktu. Bandingkan dengan makanan Vietnam, Thailand atau Korea dan Jepang  yang begitu mendunia, makanan Indonesia yang banyak di kenal terbatas pada  nasi goreng ( yang sebenarnya menurutnya merupakan masakan yang ‘left over’ ) gado-gado, sate.

Dalam buku 30 resep masakan Indonesia yang diprakarsai Kementrian Pariwisata semasa Menteri Elka Mari Pangestu, William Wongso bersama almarhum Bondan Winarno dan beberapa pakar kuliner  mewujudkan 30 jenis kuliner Indonesia  dalam sebuah buku dengan  tampilan dan takaran yang bisa jadi panduan sehingga masakan Indonesia mempunyai standar rasa sesuai dengan citarasa di masing-masing daerah yang mempunyai masakan tradisional tersebut.

Rendang meski pernah menjadi masakan terlezat dunia bukankah satu satunya, masih banyak masakan kita yang bisa diperkenalkan. Maka menjadi Diplomat Kuliner keliling baik oleh undangan para penggiat kuliner dunia, maupun support dari  Kementrian Pariwisata membuat William Wongso  hampir tak pernah  lama menjejakkan kaki di Tanah Air. Selalu berkeliling, dari Amerika, ke beberapa negara di Eropa, Asia, Amerika Selatan  dan begitu seterusnya.

Di Indonesia, hampir setiap daerah sudah dikunjunginya. Ia akan mempelajari bahan bahan utama masakan setempat, mencicipi citarasanya dan kemudian memperkenalkannya pada dunia. Kecintaannya pada kuliner Indonesia sudah begitu mendarah daging dan ia dengan mudah dapat menjelaskan  beberapa bahan alami yang ada padanannya dengan beberapa bahan di mancanegara. Karena pengetahuan luasnya  baik tentang masakan internasional maupun masakan negeri sendiri, bertemu seorang William kita bisa mendapat ‘kuliah’ lapangan dan tambahan pengetahuan yang sulit didapat dari sekokah-sekolah kuliner sekalipun.  “Diperlukan banyak usaha untuk melestarikan tradisi seni kuliner kita,” katanya  suatu kali. RM.foto.Dok WW.

 

 

read more
Sosok

Kerja, Kerja, Berbagi

sosok-dwi-3-ok

Profesinya dosen di sebuah universitas di Yogya. Tetapi ia lebih dikenal luas sebagai pembuat herbal untuk pengobatan, khususnya kunyit atau kunir putih. Ini adalah hasil penelitian Prof. Dr Ir Dwiyati, bertahun tahun menggeluti tanaman kunyit putih jenis curcuma mangga.  “Baunya memang seperti mangga,” katanya saat menjelaskan mengapa kunyit putih ini disebut curcuma mangga. Dari testimoni   orang-orang yang telah mengonsumsi kunyit putih ini, mereka sembuh dari berbagai macam penyakit antara lain  diabetes, asam urat, syaraf kejepit, tumor/kanker dan banyak penyakit lain yang dituturkan dalam testimoni para pengguna. Testimoni itu juga sudah ditulis dalam berbagai media. Penelitian  penggunaan  hasil rimpang kunyit putih jenis curcuma mangga untuk berbagai penyakit ini pun makin dikenal dan semakin berdampak luas

Di rumahnya di area jalan Wates, km 9,5 Yogya,  ia sering menerima mereka yang datang untuk mengambil kunyit putih ini untuk berbagai keperluan. Bahkan ia juga mempersilakan mereka yang ingin membantu menjualkan kunyit putih ini, “Agar semakin banyak yang terbantu,” katanya. Prof Dwiyati juga  menerima mahasiswa-mahasiswa untuk diam di bagian rumahnya dengan biaya yang cukup rendah “asal mereka bersedia saja menerima kondisi apa adanya termasuk makan sehari harinya,“ katanya lagi.  Untuk itu para mahasiswa ini juga diminta untuk membantu dalam penyediaan kunyit putih ini termasuk bila tiba saat panen tanaman herbal yang dikelolanya. Sebagai putri seorang guru dan juga petani, Dwiyati terbiasa bekerja dilapangan dan akrab dengan bidang pertanian.

Nama Profesor Dwiyati pun semakin dikenal. Penelitiannya memang bukan main-main. Bertahun tahun ia menggeluti  jenis kunyit putih itu yang kemudian menghasilkan disertasinya  dalam mendapat  gelar Prof Dr, guru besar pertama dalam bidang Teknologi Pengolahan Hasil Hortikultura dari Universitas Mercu Buana, Yogya, tempatnya berdedikasi yang juga dicapainya tepat waktu. Ia memang seorang yang tekun dan  pekerja  keras.  Hasil penelitian ini diwujudkan dalam bentuk kapul-kapsul agar penyebarannya bagi masyarakat lebih praktis dan meluas  yang dapat dibeli dengan harga  sangat terjangkau. “Saya memang ingin banyak orang mendapat manfaat dari kunyit putih ini,” katanya. Ia makin bersemangat ketika beberapa dokter juga menggunakan kunyit putih ini. Berbincang dengannya, mengisyaratkan bahwa ia seorang yang rendah hati  yang sangat ingin membantu  masyarakat luas.

Pencapaian  Prof Dwiyati mestinya bisa menjadi motivasi bagi banyak orang untuk meraih cita-cita setinggi mungkin, bahwa dengan niat tulus dan kerja keras, menghasilkan sosok yang berharga bagi banyak orang. RM.Foto: dok Prof. Dwiyati

 

read more
Info

Kejutan KAMI

KAMI-7

Dalam ajang Jakarta Fashion Week  (JFW) 2018,  brand yang semula bernama ‘KAMI Idea’ ini muncul dengan debut barunya.  Hadir sebagai brand ‘KAMI’  koleksi desain yang ditampilkan tak hanya busana muslim berhijab tetapi juga menampilkan model tanpa hijab. Ingin merangkul pasar yang lebih luas adalah alasan Director KAMI  Istafiana Candarini. Meski demikian target utama tetap busana berhijab.

 

 

KAMI adalah brand modest wear yang fokus pada gaya hidup urban-modern bagi wanita yang lebih memilih memakai  pakaian dengan gaya ‘santun’. Bertema RAFAE- terinspirasi dari sayap malaekat yang konon melindungi mereka yang menuntut ilmu – dengan 24 desain yang ditampilkan pada JFW 2018, bahan yang digunakan dalam koleksi ini adalah polycrepe, organza, chiffon cerutti,  dan katun manish.

Kali ini KAMi kembali tampil dengan kejutan manis. Sumber: KAMI. Foto: dok KAMI,

 

 

 

read more
1 2 3 4 5
Page 4 of 5