close
Dialog-RM-1

Apa sih yang menarik dalam suatu dialog? Kalau pembicaraannya tentang sesuatu yang sedang menjadi perhatian masyarakat saat itu. Begitu mestinya. Dan dalam suatu acara  seminar tentang batik,  di mana saya berhadapan dengan Bapak Rahadi Ramelan, sesepuh Yayasan Batik Indonesia, dialog itu jadi ‘hidup’. Masalahnya Pak Rahadi ini mempunyai latar belakang pengetahuan yang luas tentang batik. Jadi kami bicara tentang presentasi  kain kain batik dan segala sesuatu yang berbahan batik dengan sangat  ‘seru’.

Batik itu yang selalu berhubungan dengan malam atau wax. Ada proses pengerjaan  dengan canting atau cap dan proses melorot (menghilangkan malam sebagai ‘perintang,’ dan  menghasilkan warna yang diinginkan). Sekalipun motif batiknya dibuat dengan motif tradisional atau motif motif batik yang banyak diketahui umum seperti motif parang, misalnya, kalau dikerjakan di pabrik tesktil dengan cara printing, itu namanya tetap tekstil bermotif batik, dan bukan batik. Itu salah satu dialog kami saat itu.

Diskusi tentang hal ini di masyarakat masih sering jadi polemik  karena  ada juga pendapat yang menyatakan bahwa harga yang murah seperti tekstil bermotif batik buatan pabrik itu terjangkau oleh masyarakat luas  karena harganya sangat terjangkau, dibanding batik cap apalagi batik tulis.  Diskusi tentang ini juga menjadi lebih seru bila berhadapan dengan pakar batik lainnya, Ibu Suliantoro Sulaiman yang sayang sedang dalam pemulihan dari sakit beliau. Dulu Ibu sering ‘menantang’,  “Lho batik tulis, tulis, lho ya, bukan cap, juga ada yang sangat terjangkau bagi masyarakat luas.”

Kami kemudian membincangkan bahwa tentu tergantung bahan yang dipakai dan proses pengerjaan motifnya  sehingga ada batik yang memang mahal tetapi agaknya beliau lebih ingin menekankan bahwa batik kita adalah batik yang oleh UNESCO diakui sebagai ‘warisan budaya tak benda’ karena filosofi dan proses pengerjaannya yang telah berlaku secara turun temurun sejak ratusan tahun. Sebagai salah satu ‘pejuang’ yang dengan gigih memperjuangkan batik sebagai warisan budaya, yang juga diperebutkan oleh negara negara Asia lain, terutama Malaysia, yang mempunyai batik, tentu bisa difahami mengapa Ibu Suliantoro gigih dengan pendapatnya. Beliau berharap agar banyak masayarakat juga  memahami hal itu.

Diskusi tentang batik yang semakin lama semakin menjadi kain atau busana yang lekat dengan masyarakat memang selalu hangat, sehangat dialog saya dengan Pak Rahadi Ramelan saat itu..( Retno Murti)  

Apa pendapat Anda tentang hal ini?  ( fashionpromag7@gmail.com)

Tags : batikdialogdiskusifeaturedm seminargamesIndonesiakainpelajaranprintingtekstilUniversitas

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.