close
gudeg-2-fp,jpg
Antrean panjang tengah malam

Yogya memang kota gudeg. Tapi gudeg maktekluk, apa pula itu ? Dalam bahasa Jawa, ‘tekluk’ itu biasanya dikaitkan  dengan rasa ngantuk. Kalau disebut “mak tekluk” adalah saat seseorang hampir jatuh tertidur pada posisi di luar tempat tidur, biasanya sambil duduk tidak sengaja tertunduk tertidur dengan  gerakan kepala yang tiba tiba ‘jatuh’ ke bawah. Itulah yang sering disebut ‘mak tekluk..’ Barangkali berdasar makna ini gudeg lesehan di jl Gejayan, Yogyakarta  yang baru buka sekitar pukul 10 malam hingga dini hari ( bila masih tersisa) disebut ‘gudeg mak tekluk.’ Ini tentu bukan nama resmi tapi sebutan yang diberikan penduduk lokal karena waktu makan di sana adalah jam jam ngantuk. Jadi gampang mak tekluk… Yang membuat penasaran mereka yang baru tahu tentang gudeg ini karena dari kejauhan sudah terlihat antrean panjang pembeli yang menunggu giliran sampai di depan  tempat penjualan gudeg berupa meja yang dibatasi kaca pendek. Penjualnya seorang ibu setengah baya yang  hampir tak pernah terlihat wajahnya  karena di balik  kaca pendek itu ia hampir selalu menunduk mewadahi gudeg yang dipesan tanpa henti. Ia hanya mendengarkan berapa  porsi gudeg yang dipesan tanpa menengok ke arah pembelinya karena tangannya sibuk  mewadahi gudeg. Ada seorang yang membantunya memberikan piring nasi gudeg tersebut pada pembelinya. Si pemesan – biasanya berombongan – lalu mencari tempat di atas tikar lesehan sambil menikmati gudeg yang tidak terlalu kering bahkan cenderung agak basah ini.  Sehabis itu mungkin mendengarkan teman-teman ngobrol dan karena   perut kenyang apalagi bila udara nyaman, suara suara itu  bisa membuat ngantuk dan ya, itu tadi… bisa saja ‘mak tekluk…’ RM. Foto: Gilang

Tags : bumbufashiongula featuredIndonesiajajanankulinermakananmasakannasipadiresto

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.