close
batik-wati-14

Semula saya mengenalnya sebagai ibu rumah tangga. Ia beraktivitas selayaknya ibu ibu lainnya. Melahirkan anak, memasak, menata rumah dan sebagainya. Lho, biasa kan? Ya ,sih, tapi yang membuat saya menandainya dengan cermat adalah karena ia adalah putri keraton, putri Sultan Hamengku Buwono IX dan sikapnya selalu lembah manah, rendah hati. Setiap kali saya singgung tentang darah bangsawannya, ia selalu mengelak, semacam “Ah, biasa saja.”

Saya mengenalnya  saat  ia belum lama menikah. Ia tak berubah. Bahkan ketika ia karena kecintaan pada batik warisan leluhu ria  menggeluti bidang ini sebagai profesinya dan dikenal luas,  ia tetap menjadi sosok yang sama. Ia saya panggil dengan ‘mbak Wati’ meski nama resminya adalah GBRAy ( Gusti Bendoro Raden Ayu) Murywati Darmokusumo.

Kini kiprahnya di dunia bisnis batik makin mendunia.  Dengan brand, ‘Sekar Kedaton’, ia tak hanya menghasilkan  batik batik tulis yang punya sejarah motif keraton tetapi juga merambah ke dunia fashion. Beberapa tahun setelah ia menggeluti bidang itu,  karyanya sudah sampai di New York, di Canada dan kota dunia lainnya. Ia juga aktif berperan pada pameran di Museum Tekstil Bangkok saat dipamerkannya  kain batik Parang Barong hadiah  dari Sultan Hamengku Buwono VII pada raja Thailand saat itu, King Rama V. Mbak Wati diminta  oleh pihak pengelola Museum Tekstil Thailand membuatkan duplikat yang sama dengan kain hadiah dari leluhurnya yang diberikan pada King Rama, Kain  dodot yang panjangnya 7,5 meter dan  lebar 2,5 meter  itu bermotif Parang Rusak Barong yang pada masa itu hanya boleh dikenakan oleh para raja. “Proses mengerjakannya cukup sulit  karena dilakukan  dari 6 kain panjang  yang disambung dan dibatik yang prosesnya pun tidak gampang karena dikerjakan dengan cermat dan hati hati, tidak gampang menghilangkan lilin ( malam ) sehingga warna putihnya juga sangat bersih. Saya mengerjakannya pun selama 2, 5 tahun,” katanya. Proses yang luar biasa.

 

Putri Keraton yang punya  brand ‘Sekar Kedaton’  ini memang  tidak hanya berbisnis batik tetapi juga mendalami dan  mengenal motif-motif batik keraton secara detail. Sejak awal pada peragaan busana di Keraton pada masa Sultan Hamengku Buwono IX  dan mbak Wati masih gadis muda, ia sudah terlibat di dalamnya,
Kini dalam peragaan busana  karyanya ia sering memakai  muse selebriti, seperti  Ayu Diah Pasha,  Wulan Guritno, Shelomita,  dan sebagainya .

Pada acara ‘Heritage of Keraton’  tahun ini, di hotel Dharmawangsa, Jakarta,  Mbak Wati juga berperan dengan menata peragaan busana keraton Yogya dengan muse antara lain Eva Celia putri Sophia Latjuba.

Yang menarik para undangan yang terdiri dari para duta besar dan istri dari negara sahabat, memakai  kain dan batik Jawa. Mbak Wati bahkan memesan khusus cemara berwarna pirang  untuk para wanita yang mempunyai warna  rambut  pirang.  “Mereka kelihatan sangat senang mengenakannya, “ kata putri Kedaton ini. Tentu kalau budaya kita dihargai  bangsa lain, apalagi oleh bangsa sendiri, kita juga ikut gembira. Bagi Putri keraton ini melestarikan batik warisan leluhurnya dan mengemasnya dalam busana yang bisa dikenakan para wanita masa kini tentulah suatu kebanggaan tersendiri.  RM. Foto: dok Sekar Kedaton

 

Tags : Bangkok Ratu Sirikitfeaturedhadiahkain. batikkarya busanaKing Ramamoderaja rajaSultantenun

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.