close

fashion

Fashion

Kami & Revival Fashion Festival

kami-5

  

Kami, salah satu label pakaian modest Indonesia, Agustus lalu  menampilkan koleksi terbaru dalam turut meramaikan panggung pergelaran virtual fashion show bertajuk Revival Fashion Festival (RFF) yang diadakan oleh Jakarta Fashion Week. Revival Fashion Festival merupakan event fashion show yang diadakan untuk mendukung dan memberi ruang kepada para pelaku industri fashion, beauty dan lifestyle untuk bangkit dan kembali produktif di kondisi normal baru setelah sebelumnya terkena dampak pandemi Covid 19. Dalam rangka menyesuaikan dengan kondisi normal baru, event RFF yang dilaksanakan dari tanggal 5 – 9 Agustus 2020 ini dilakukan secara virtual dan dapat disaksikan secara online melalui kanal JFW dan juga live streaming di aplikasi Lazada.

“Alhamdulillah di masa pandemi ini, brand Kami masih aktif dan produktif dalam menghadirkan koleksi untuk memenuhi kebutuhan para pecinta modest fashion. Meskipun tantangannya kali ini cukup banyak, salah satunya bagaimana untuk menampilkan dan memperlihatkan secara langsung koleksi baru yang diluncurkan, “ucap Istafiana Candarini, Director dan Co-Founder Kami.

 

Dua koleksi terbaru yakni “ISHANI” dan “ARISA”  ditampilkan dengan total 20 look mulai dari tunik, blouse, luaran, dan dress. Masih membawa sentuhan budaya Korea, kedua koleksi yang ditampilkan Kami terinspirasi dari elemen dan juga kerajinan khas Korea. Koleksi ISHANI terinspirasi dari keindahan bunga Mawar Sharon, atau yang dikenal sebagai ‘Mugunghwa’, yakni bunga nasional Korea Selatan. Nama Korea ‘Mugunghwa’ sendiri berarti ‘bunga abadi yang tidak pernah pudar’. “Bunga ini melambangkan kesuksesan dan kembalinya kekuatan. Koleksi ini adalah pengingat bahwa bahkan selama hari-hari gelap, pengabdian dan keimanan kita tidak boleh pudar,” ucap Nadya Karina, Creative Director dan Co-Founder Kami.

Koleksi ARISA terinspirasi oleh metafora budaya dari kain selimut tradisional Korea. Kain ini memiliki makna menyimpan kenangan. Motif pada koleksi ARISA merupakan turunan dari motif koleksi JANA, sebuah koleksi Raya Kami yang terinspirasi dari Pojagi atau Bojagi yakni teknik quilting tradisional Korea kuno berusia 2000 tahun. “Teknik Pojagi dibuat dengan menggabungkan beberapa jenis kain seperti sutra dan rami, yang kemudian dijahit menjadi satu kain utuh. Setiap potongan yang dijahit dalam Pojagi membawa bagian yang berarti dari hidup. Koleksi ARISA adalah tentang kenangan yang disimpan waktu ke waktu, baik atau buruk, dan bagaimana mengubahnya menjadi berkah.”kata  Nadya Karina, Creative Drector dan Co-Founder Kami.

Cerita dan makna inspirasi dari koleksi ISHANI dan ARISA ini sarat makna dan membawa pesan yang sesuai dengan latar belakang event Revival Fashion Festival. Hal ini juga berkaitan dengan kondisi yang saat ini dirasakan dari adanya pandemi COVID-19. “Harapan Kami, semoga koleksi ini dapat diterima dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan para pecinta modest fashion. Dan cerita dari koleksi ini dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk bangkit dan mengembalikan kekuatan untuk bisa menghadapi tantangan dari kondisi yang saat ini kita jalani sambil terus berharap dan berusaha agar ujian pandemi ini dapat segera berakhir,” tutur Istafiana Candarini

 

read more
Kain

Daya Tarik Selendang Indonesia

sld-11

Selendang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.  Lihat saja di beberapa kepulauan kita selendang umum dipakai sebagai  pelengkap kain kebaya/atasan bahkan juga elok dipadu dengan gaun modern. Bila awalnya selendang hanya dipakai pada upacara resmi atau upacara adat, kini selendang sudah menjadi bagian dari fashion masa kini. Ia bisa tampil sebagai pelengkap busana tetapi juga cantik dipakai sebagai scarf atau bahkan digunakan sebagai hijab.

Dan inilah yang dilirik oleh Ibu Edith Ratna , pecinta wastra Nusantara  sekaligus penyelenggara Pameran Adi Wastra Nusantara untuk dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan Pameran Adiwastra Nusantara  dalam  bentuk lomba pembuatan selendang. Sejak tahun 2018 Lomba Selendang Indonesia sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pameran tersebut.

Menggembirakan bahwa dari tahun ke tahun peserta lomba selendang ini semakin bertambah, tak hanya dalam jumlah tetapi juga dalam ragam kreativitas.  Bekerja sama dengan dengan Traditional Textile Arts  Society of South East Asia ( TTASSEA) yang diketuai oleh GKBRRAA Paku Alam,  lomba ini semakin  berkembang. Tak hanya selendang batik  dalam berbagai motif tradisional maupun modern, tetapi juga selendang  tenun dan selendang dengan hiasan Sulam tangan menjadi  bagian yang dilombakan.  Diharapkan lomba ini dapat membangkitkan kreativitas  para perajin, desainer dan pencinta  kain Nusantara dalam mengembangkan  selendang yang merupakan kekayaan budaya kita.

Tahun ini, panitia Adiwastra Nusantara  juga menyelenggarakan  Lomba Selendang Indonesia  dengan tema    Citra Puspa Indonesia. Lomba ini diselenggarakan dalam tiga kategori yaitu kategori Selendang  Tenun ( ATBM/gedogan) kategori Selendang Batik ( batik tulis/batik cap/kombinasi batik tulis dan cap)  serta kategori Selendang Jumputan/Sulaman/Bordir Tangan ( dikerjakan secara manual/kerajinan tangan).  Menggembirakan bahwa peserta tahun ini mencapai lebih dari 150 peserta.   Meski belum diumumkan siapa pemenang dari masing masing kategori, karya beberapa finalis bisa dilihat dalam beberapa sesi pemotretan ini. Tampil indah dan memberi harapan baru bagi semakin meluasnya karya  Selendang Indonesia  yang  menjadi  peluang baru bagi karya  cipta Nusantara tak hanya di dalam negeri tetapi juga meluas ke  manca Negara. (RM) Fpt0 

 

 

read more
Kain

Gelar Tekstil Internasional

tekstil-2

Yogya kembali menggelar event internasional. Awal November lalu yogya menjadi tuan rumah penyelenggaraan ‘7th Asean Traditional Textile Symposium 2019’.  Para pakar dari berbagai negara seperti Malaysia ( bahkan istri Yang Dipertuan Agung sendiri hadir dalam acara ini dan aktif berkomentar ) Korea, Jepang, Singapore, Kuwait, Australia,  mengikuti simposium  2 hari yang diselenggarakan  panitia.  Sebelumnya para tamu negara ini dijamu oleh pihak Kasultanan maupun Pakualaman dengan jamuan dan pertunjukan tari tradisional.

Berbagai pakar tekstil tradisional dari berbagai negara itu berbagi ilmu, memberikan pemaparan  sejarah dan perkembangan tekstil  tradisional di negara masing masing.

Yayasan Traditional Textiles Arts Sosiety of South East Asia ( TTASSEA)  merupakan perkumpulan masyarakat pencinta tekstil Asia Tenggara nirlaba  yang terdiri dari para akademisi, perajin, para kolektor dan pelaku aktif yang mengupayakan  pelestarian dan  pengkonservasian  tekstil tradisional Asia Tenggara. Simposium mengenai hal ini pertama kali diselenggarakan di Gedung Sekretariat ASEAN Jakarta pda 6 Desember 2005. Tahun 2019 merupkan simposium yang ke 7.

Dibuka oleh GKR Hemas, serta tuan rumah acara ini,  GKBRAA  Paku alam, President Traditional Textile Arts Society of South East Asia, acara ini  berhasil memberi berbagai gambaran kemajuan  tekstil tradisional dari berbagai negara yang dibawakan oleh para pakar negara tersebut.

Yang membanggakan adalah dari negara kita sendiri banyak generasi muda yang berminat  dalam pengembangan tekstil atau kain hasil negeri sendiri.  Dengan kreativitas dan cara mengikut sertakan teknologi masa kini mereka bangkit memberikan  gambaran yang menggembirakan dalam pendekatan baru  pengembangan kain atau tekstil Nusantara. Salah satunya adalah Dewi, dosen  muda cantik dari ISI Bali. Pemaparannya dalam memberikan pendekatan baru  yang berkaitan dengan penelitiannya tentang kain kain di Bali menarik. Muda usia dan tekun berkaryua, Semoga banyak generasi muda yang fokus dan serius dalam kekayaan wastra negeri sendiri

 

read more
Kain

Melihat Pelangi

katum-9

 

Sulaman dari 72 pakar menyulam yang dikumpulkan dalam memperingati Hari Kemerdekaan yang Indonesia yang ke 72.

Sulaman dari 72 pakar menyulam yang dikumpulkan dalam memperingati Hari Kemerdekaan yang Indonesia yang ke 72.Bahasa daerah kita memang kaya. Pelangi dalam bahasa Sunda disebut Katumbiri. Maka pameran berjudul sama adalah pameran yang menyajikan berbagai hasil karya, kerajinan seni  bangsa kita. Kain, busana,  interior, kerajinan tangan ataupun perhiasan yang berkualitas dipamerkan dalam berbagai karya, bak pelangi yang beraneka warna.

Di selenggarakan di Jakarta Convention Centre Desember lalu, selama lima hari pameran tersebut memang memberikan  gambaran tentang perkembangan dan ragam karya seni Nusantara. Dalam pameran serupa ini kita bisa melihat  apa saja beragam karya yang dipamerkan, karya  apa saja yang disajikan secara kreatif dan inovasi apa yang dihasilkan oleh masing masing perajin ataupun pengusaha seni. Melihat kekayaan budaya kita,  setiap daerah mempunyai karya karya yang beragam  menunjukkan ciri khas daerah tersebut.

Maka pameran seperti Katumbiri ini juga memberi kesempatan bagi para perajin  untuk memaerkan kerajinan yang mungkin jarang diperhatikan dengan teliti seperti kerajinan sulam yang ternyata menghasilkan banyak karya yang membanggakan. Salah satu stand pameran ini memamerkan kerajinan sulam dari 72  pakar  seni sulam dari berbagai daerah. Dengan dasar warna lambang negara kita, mereka  bersatu dalam menyajikan karya seni sulam  dalam  bentuk patch work yang indah. Dihadirkan untuk ikut memberi arti bagi perayaan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus lalu yang ke 72,  karya seni ini memang menarik .

Melihat pameran memang bisa menambah wawasan kita dalam melihat hasil karya kekhasan tiap daerah yang beragam. Interaksi antara pengunjung yang berbelanja dan peserta pameran  membuat kegiatan ekonomi berlangung dengan  baik.  Dan bukankah itu yang banyak diharapkan para pelaku ekonomi ini?

 

read more
InfoUncategorized

Lukisan GM

GM-9

 

 

Kalau disebut GM, semua orang media mestinya tahu siapa yang dimaksud, Dialah Goenawan Mohammad, wartawan kawakan, pendiri majalah Tempo yang catatan pinggirnya selalu menghentak, dan membuat isi majalah Tempo enak dibaca dan .. perlu. Maka banyak yang bertanya ketika Goenawan Mohammad  berpameran lukisan “Lho Pak GM melukis toh? ”  Ternyata memang sang wartawan dan sastrawan ini sebenarnya telah beberapa tahun  terjun di kancah seni rupa dan tentu saja termasuk menekuni dunia lukis. Bagi mereka yang mengenalnya dekat, tidak heran tentang hal ini. Memang beberapa tahun   terakhir, ia sudah aktif menghadirkan  beberapa karya seni rupa seperti   skesta sktesa dan lukisan lukisan yang dipamerkan di beberapa kota. Tahun  lalu  misalnya, Goenawan sudah berpameran di Semarang dan pada November lalu di Yogya. apakah ini sebuah loncatan? ‘Bagi saya, melukis bukan sebuah loncatan ke depan tetapi ke samping,’ katanya dalam pengantar buku pamerannya.

Pameran yang diselenggarakan di Museum  Dan Tanah Liat, di selatan Yogya ini  dihadiri para seniman, sahabat dan wartawan.  Berjudul agak unik  ‘Binatang’,  dituturkan  penulis Wahyudin yang menulis di buku pengantar pameran, jawaban Goenawan saat ia bertanya tentang tema pameran ini. “Saya menyimpan rasa bersalah di masa lalu dengan binatang. Suatu ketika saya menembak mati seekor burung .  Saya gegabah melakukannya dan karena itu saya menyesal.”  Wahyudin juga menyebutkan bahwa  menurut Goenawan  binatang merupakan makhuk yang menakjubkan , “Saya suka. Apalagi saat kecil saya dekat dengan cerita cerita binatang, ” katanya.

Yang menarik juga adalah  dipamerkannya  sketsa beberapa  wayang dengan keterangan tentang apa, siapa  dan kisah sosok wayang tersebut. Dari sosok Bhisma, Karna, Kresna, Kunti, Surti Kanti hingga Durna. Tokoh tokoh yang menyelimuti kisah  Mahabaratha, sesepuh para  Pandawa dan Kurawa. Tetapi  juga ada skesta  burug deruk  yang diselamatkan nyawanya oeh Raja Usinara.

Tema Binatang, membuat pameran ini menampilkan karya karya GM yang menarik dan perlu dilihat.

 

 

 

read more
Fashion

Menatap Trend Forecasting 2019/2020

Trn1.jpg

Gelar tahunan yang dilakukan untuk menatap arah fashion ke depan biasa dilakukan di dunia mode global. Indonesia sejak beberapa tahun mencoba menggali sendiri dengan melihat beberapa keunikan yang terjadi di dunia untuk ‘melahirkan’  tren.  Kerja BEKRAF dan Indonesia Fashion Chamber ( IFC)  ini melahirkan  tema  yang dipakai sebagai acuan yang bisa dimanfaatkan di bidang fashion, craft, produk interior dan lain lain.

Team kerja merumuskan tema besar yang disebut Singularity, atau keganjilan atau ancaman menurut Kepala BEKRAF Bapak Triawan Munaf yang meresmikan acara Trend Forecasting  ini.  Ini karena banyak nuansa nuansa yang dihadapi dunia saat ini merupakan ancaman dan nuansa ini kemudian diterjemahkan dalam beberapa tema desain. Tema terbagi dalam 4  tema: Svarga,  Neo Medieval, Cortex dan Exuberant.

Para insan mode hadir  untuk gathering, saling tukar pikiran sebelum akhirnya masuk ke gedung bioskop di Grand Indonesia, Jakarta, pertengahan  September lalu  untuk melihat pemutaran film proses terbentuknya tema tema yang dinyatakan sebagai trend forecasting   2019/2020.

Dalam sambutannya  Triawan Munaf  menyebutkan bahwa tidak mudah mengartikan panduan tren ini namun penting untuk mengetahui kerja besar ini agar tercipta dasar pemikiran  untuk mewujudkannya dalam berbagai bentuk sesuai profesi masing masing. “Memang tidak mudah, pusing mungkin melihatnya, tetapi ini penting untuk bahan masukan  panduan ke depan,” tuturnya.

Perwujudan dalam bentuk fashion sesuai persepsi  masing masing  desainer dalam melihat tema ‘Singularity’ tersebut ditampilkan lewat peragaan busana empat desainer : Hannie Hannanto  dengan Exuberant,  Deden Siswanto dengan Neo Medieval , Sofie dengan  Svarga dan Aldre Indrayana dengan Cortex..

Mau melihat trend forecasting  dari kerja  BEKRAF dan IFC ? Inilah beberapa gambaran  untuk Anda. RM . Foto:RM

read more
Kain

Mengagumi Shibori

Bkraf-10

 

Artistik. Indah. Ya, langsung takjub melihat keindahan kain kain shibori yang dipamerkan di Plaza Senayan  tanggal 10 sampai 16 September ini.  Dibuka dengan pengguntingan pita oleh Ibu Mufidah  Yusuf Kalla  bersama Dubes Jepang,  Mr Mashafumi Ishii dan utusan Khusus Presiden  Republik  Indonesia untuk Jepang, Bapak Rahmat Gobel,  jajaran kain Shibori  yang merupakan warisan budaya ditata dengan apik membuat banyak pengunjung berdecak kagum. Ibu Mufidah  juga terus berkeliling  melihat keindahan kain kain  yang diterangkan langsung oleh Direktur Museum Shibori di Kyoto, Mr Kenji Yoshioka yang membawa langsung Shibori itu dari Jepang.

Selain kain kain Shibori yang dipamerkan,  berbagai kain kain Shibori yang cantik juga bisa dibeli  dan sebuah video  menggambarkan proses pembuatan shibori.  Pameran ini  dilaksanakan memperingati  60 tahun persahabatan  Indonesia -Jepang dan diselenggarakan  atas kerja sama para pencinta budaya kedua negara  yang pada  bulan Juni juga menghadirkan pameran  ‘Batik and  Kimono Collaboration’  di Osaka.  Dari pameran  itu dibuatlah kerjasama antara  Museum Shibori Kyoto dan Adiwastra Nusantara Foundation  yang sudah ditandatangani oleh Ibu Edith Ratna dan Mr Kenji Yoshioka . Kerjasama ini dimaksudkan untuk saling berbagi ilmu dalam seni kain kain unggulan yang rencananya akan dijabarkan dalam berbagai acara. Pameran kali inipun mengikut sertakan para pebisnis dan perajin Shibori Indonesia.

Karya luar biasa Shibori

Dalam sambutannya  yang ditujukan pada Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Bapak Rahmat Gobel menyebutkan bahwa  sebaiknya  perajin perajin kita juga dilatih lebih banyak tidak hanya dengan mendatangkan para ahli dari luar ke Indonesia  tetapi juga membawa perajin kita melihat langsung proses pembuatan kain kain unggulan di Jepang. Selama di Indonesia  Mr Kenji Yoshioka  bersama Prof Tosuzu Matsakasu,  Kepala budaya Jepang- Indonesia, yang berperan besar dalam perhelatan ini menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan  di Museum Tekstil Indonesia  yang merupakan bagian juga dari kerjasama ini.

Seni tradisional  Jepang  dalam memukul drum yang disebut Wadaiko atau Taiko , gemuruh,  menggetarkan dan  sangat enerjetik yang dilakukan oleh empat pemuda  siswa sekolah Miho Bigakuin, memeriahkan acara pembukaan pameran dan setelahnya berdemo di JCC dalam acara pameran interior dan craft. RM. foto:RM

read more
Sosok

Aksesori Aksi Rinaldy

Art-oke-6,jpg

Upacara  pembukaan ajang internasional dunia ‘Asian Games ke 18’ sudah digelar 18 Agustus lalu. Gemanya masih bergaung hingga saat ini tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia internasional. Gelar pembukaan yang spektakuler itu tak lepas dari mereka yang bekerja di belakang layar. Salah satu yang menarik dalam tari pembukaan dari Aceh, yang melibatkan 3500 penari  ini selain koreografi dari ‘Denny Malik’ yang sangat atraktif,  kostum yang dikenakan membawa daya tarik tersendiri.  Perancang kostum  luar biasa itu adalah perancang negeri sendiri, Rinaldy Yunardi. Selain mendesain ribuan penari itu dalam tiga segmen  yaitu segmen earth, fire dan energy, yang ditampilkan dalam warna warna yang menggambarkan berbagai budaya tanah air, cara penggantian warna kostumnya pun sangat kreatif karena dilakukan dengan praktis. Bahan-bahan  yang dipakainya juga  berdasar pada batik, tenun yang dimodifikasi dengan tampilan yang sangat menarik.

read more
Fashion

Illusoire-Alleira

Alleira-oke-3

Alleira yang selalu  menghadirkan batik modern, kembali muncul dengan peragaan yang terbaru di Pondok Indah Mall 2, pertengahan Agustus lalu.  Koleksi  untuk Spring Summer 2018 ini terdiri dari koleksi busana dewasa dan anak-anak dengan tema ‘ Illusoire’.  Tema itu seolah mengacu pada desain yang simpel dengan motif modern kontemporer  dan.menghadirkan motif lace yang dibuat dengan teknik geser, menciptakan ilusi bayangan hingga memperjelas permainan motifnya.

Warna warna yang digunakan terdiri dari warna  hitam, biru, putih gading, merah, kuning serta cokelat. Bahan bahan yang dipakai selain lace  adalah  satin silk, handwoven silk, handwoven cotton dan katun  jacquard. “Bahan bahan ini nyaman dipakai untuk sehari hari,” kata  Anita Asmaya Sanin, Creative Director Alleira.  Siluet yang dihadirkan antara lain dress andalan Alleira Batik dengan blus berpotongan loose yang dipadu celana kulot klasik dan jaket boxy fit dalam koleksi ready to wear.

read more
Fashion

Selera Busana Memikat

IFW-lalu-3

Bahwa busana daerah kita dengan berbagai ragam merupakan kekayaan seni budaya Nusantara  tak bisa diragukan lagi. Namun di tangan perancanglah kain kain itu terwujud menjadi busana yang memikat. Meski acara ‘Indonesia Fashion Week 2018 ‘ sudah lama berlalu tetapi beberapa rancangan  busana yang belum sempat ditayangkan sungguh sayang dilewatkan.

Dalam acara tersebut yang juga menampilkan beberapa perancang negara lain, perancang kita menghadirkan  busana busana  dengan kreasi yang menarik. Dan sebaliknya perancang tamu juga tak  kalah memikat.  Pilihan tentu jatuh pada Anda yang melihat barisan model model yang mengenakannya dalam tampilan ini. Satu hal yang  juga menarik adalah munculnya model model  masa lalu yang tetap memukau hingga masa kini dalam peragaan busana ini.  Sebut saja model cantik Chitra, Dhani Dahlan dan Enny Sukamto. Luwes  kan? RM.Foto.dok.RM

read more
1 2 3
Page 1 of 3