close

Indonesia

Info

Satu Dekade Seni Jakarta

art-xy

 

Usia 10 tahun dan tetap bertahan bahkan makin berkembang menunjukkan konsistensi pameran seni terkemuka di negeri ini. Berawal sebagai Art Bazaar Jakarta, kerja dari MRA group ini terus berlanjut dari tahun ke tahun. Kini dengan penamaan Art Jakarta, pameran ini semakin lama semakin diminati karena konsisten dalam menghadirkan karya karya seni yang menarik dan berkualitas tidak hanya dari dalam tetapi juga luar negeri.

Pembukaan yang membuat undangan memenuhi ruangan di Ballroom Ritz Carlton Hotel Jakarta ini tidak menyurutkan penikmat seni ini hingga berakhirnya pameran yang berlangsung dari 2 hingga 5 Agustus 2018.  Ratusan karya karya seni lukis, patung maupun karya instalasi seniman negeri sendiri berdampingan dengan karya  karya seni luar negeri yang menarik dan langsung menjadi bagian pemotretan diri pengunjung.

Selain karya seniman seniman muda yang semakin diminati penikmat seni dan menjadi koleksi para kolektor dari dalam maupun luar negeri, karya seniman legendaris seperti Basuki Abdullah dan Sunaryo juga dipamerkan dalam acara tersebut.

Berjalan mengelilingi ruangan demi ruangan sambil menikmati karya karya seni itu terasa  seperti disuguhi keindahan seni dari tangan tangan penuh bakat yang tidak semua dimiliki manusia di dunia ini. Sungguh inilah kebesaran kasih Allah pada mereka yang mempunyai kemampuan dalam menorehkan cipta rasa seni  yang mereka miliki.  RM. Foto.dok RM,TS,NB,EP.

 

read more
Sosok

Kiprah Mode Itang Yunasz

Yunasz-4

Desainer senior  Itang  Yunasz  ini punya pengalaman segudang.   Ia pernah magang  di Rumah Mode desainer Italia, Balestra  dan sepulangnya  ke Indonesia  ia  berhasil menjadi  pemenang ke 2 dalam ‘Lomba Perancang Mode’  yang diselenggarakan  majalah femina  tahun 1981. Sejak saat itu Itang muda terus mengembangkan karyanya. Desainnya yang mudah memikat banyak wanita membuat rancangannya menuai pujian dan tentu menjadi  isi lemari para pengagumnya.

read more
Sosok

Jalan Hidup Jais Darga

jais-fp-lagi-5

International Art Dealer. Itulah profesi seorang wanita tinggi langsing  yang bernama Jais Darga. Jais, April lalu punya acara istimewa di Club House Pondok Indah, Jakarta. Perjalanan hidup Jais sebagai International Art Dealer dibukukan, judulnya juga menarik: ‘Jais Darga Namaku’. Lama tinggal di Paris dengan profesi di dunia seni itu, membuat pengalaman hidup Jais penuh liku liku.

Acara hari itu istimewa karena hari itu adalah saat peluncuran bukunya. Buku setebal 540 halaman, soft cover itu  dibagikan pada teman teman dekatnya. Hari itu  memang  istimewa plus,  karena hari itu pula,  hari ulang tahunnya. Dan Istimewa lagi karena yang hadir adalah teman teman dekat Jais, dari yang senior sampai  yang junior. Dari Sam Bimbo sampai Olga Lydia. Dari wartawan senior Bre Redhana sampai Dwi Sutarjantono. Itu antara lain tamu tamu Jais,  disamping para  sosialita.

Makan-makan lezat, pasti. Acara tari dan dansa, oke.  Juga nyanyian berbagai genre dari  pop, jazz sampai rock, seolah menandakan kawan kawan Jais dari berbagai kalangan. Banyak kenalan, banyak sahabat apalagi keluarga, antara lain putri cantiknya, Magali membuat hari hari indah menjadi makin istimewa bagi Jais Darga,  International Art Dealer yang gigih. RM.Foto: RM

read more
Fashion

Keindahan Indigofera

GBJ-1

Panggung mini cantik yang ditata apik memberi aksentuasi indah pada  saat busana batik berwarna indigo berseliweran di atasnya. Keindahan biru indigo ini tidak saja merupakan warna yang memberi arti kedalaman makna intuisi dalam pengertian aura, tetapi secara nyata menghadirkan kecantikan  pewarna alam yang disebut Indigofera pada malam tanggal 9 Mei lalu.

read more
Kuliner

Gudeg Maktekluk

gudeg-2-fp,jpg
Antrean panjang tengah malam

Yogya memang kota gudeg. Tapi gudeg maktekluk, apa pula itu ? Dalam bahasa Jawa, ‘tekluk’ itu biasanya dikaitkan  dengan rasa ngantuk. Kalau disebut “mak tekluk” adalah saat seseorang hampir jatuh tertidur pada posisi di luar tempat tidur, biasanya sambil duduk tidak sengaja tertunduk tertidur dengan  gerakan kepala yang tiba tiba ‘jatuh’ ke bawah. Itulah yang sering disebut ‘mak tekluk..’

read more
Chitchat

Saya & Dia

sari-2

Ya, kami mulai sering bersama saat masing masing menjadi Pemimpin Redaksi majalah majalah terkemuka. Mbak Sari Narulita, yang terakhir menjadi Pemimpin Redaksi Her World  sering bertemu dan berteman seperjalan tugas ke luar negeri bersama saya semasa menjabat Pemimpin Redaksi majalah fashion& lifestyle, dewi. Setelah masing-masing bebas tugas, kami juga masih sering bersama apa lagi rumah kami berada pada satu wilayah.

Kami juga membuat acara fun and relax antara lain ‘Melody Memory’ mengingatkan  lagu lagu kenangan bersama para teman teman dari dunia perhotelan maupun pebisnis lainnya. Yang juga menarik karena mbak Sari adalah seorang penulis novel. Buku-bukunya sudah banyak beredar dan uniknya beberapa berlokasi di Indonesia Timur.  Selain “Bila Cengkeh Berbunga”, yang terakhir ini adalah “Cintaku di Lembata.” Wilayah di pulau Nusa Tenggara Timur ini, seolah terlupakan. Sebagai bagian dari KOPIT, Komunitas Pencinta Indonesia Timur, buku Sari Narulita yang terakhir ini memancing banyak perhatian. Selain launching beberapa kali, isi buku ini juga sejalan dengan program Kementrian Pariwisata tentang Indonesia Timur termasuk Lembata.

Belum lama ini pada akhir April di ArtOtel, Yogyakarta, sebuah hotel menarik di jalan Kaliurang, menjadi tempat berkumpulnya pada sastrawan dan mahasiswa  Yogya untuk membahas buku ini. Yang menarik dalam buku ini tokoh wanita Kayla dari ibukota yang bersambung rasa dengan sosok penduduk Lembata, yang dicirikan dengan panggilan kesayangan Gringgo menjadi pembicaraan khusus para pembaca buku ini.  Adakah ini sosok sebenarnya atau hanya khayalan?  Kisah perjalanan dan percintaan mereka sangat manis dengan menceritakan juga  masalah adat dan budaya yang ada di daerah Lembata. Seorang putra daerah asli Lembata, Ambrosius H Kernas, dalam diskusi  buku tersebut bahkan berucap “Saya jadi melihat daerah saya sendiri dengan kaca mata berbeda. Dan akhirnya merasa harus melihat kembali tempat itu,” kata Ambrosius  yang kini sedang mengambil gelar S2nya di UGM.

Dalam chitchat ini saya memang tidak membedah isi buku tersebut tetapi lebih pada  pertemanan kami yang bisa terus berlanjut setelah bertahun tahun lekat sebagai wartawan dan kini sebagai teman yang tak pernah berhenti beraktivitas. Saya hadir dalam acara itu bersama kakak,  seorang novelis juga Maria A Sardjono yang juga teman sesama penulis mbak Sari di komunitas AKSARA.  Acara berlangsung serius tetapi santai, dengan pembicara dosen sastra UGM,  Dr Wiyatmi M.Hum, Ambrosius H Kernas dengan moderator Wahyudi Djaya.

Moral of the story (MOS) dari hal ini adalah usia boleh terus menanjak dalam senioritas tapi tak boleh berhenti berkarya dalam bidang apa saja. Dalam hal ini mbak Sari, saya dan dia, punya gerak rasa yang sama.  ( Retno Murti ) Foto.RM & dok acara diskusi bedah buku.

 

read more
Chitchat

Dialog

Dialog-RM-1

Apa sih yang menarik dalam suatu dialog? Kalau pembicaraannya tentang sesuatu yang sedang menjadi perhatian masyarakat saat itu. Begitu mestinya. Dan dalam suatu acara  seminar tentang batik,  di mana saya berhadapan dengan Bapak Rahadi Ramelan, sesepuh Yayasan Batik Indonesia, dialog itu jadi ‘hidup’. Masalahnya Pak Rahadi ini mempunyai latar belakang pengetahuan yang luas tentang batik. Jadi kami bicara tentang presentasi  kain kain batik dan segala sesuatu yang berbahan batik dengan sangat  ‘seru’.

Batik itu yang selalu berhubungan dengan malam atau wax. Ada proses pengerjaan  dengan canting atau cap dan proses melorot (menghilangkan malam sebagai ‘perintang,’ dan  menghasilkan warna yang diinginkan). Sekalipun motif batiknya dibuat dengan motif tradisional atau motif motif batik yang banyak diketahui umum seperti motif parang, misalnya, kalau dikerjakan di pabrik tesktil dengan cara printing, itu namanya tetap tekstil bermotif batik, dan bukan batik. Itu salah satu dialog kami saat itu.

Diskusi tentang hal ini di masyarakat masih sering jadi polemik  karena  ada juga pendapat yang menyatakan bahwa harga yang murah seperti tekstil bermotif batik buatan pabrik itu terjangkau oleh masyarakat luas  karena harganya sangat terjangkau, dibanding batik cap apalagi batik tulis.  Diskusi tentang ini juga menjadi lebih seru bila berhadapan dengan pakar batik lainnya, Ibu Suliantoro Sulaiman yang sayang sedang dalam pemulihan dari sakit beliau. Dulu Ibu sering ‘menantang’,  “Lho batik tulis, tulis, lho ya, bukan cap, juga ada yang sangat terjangkau bagi masyarakat luas.”

Kami kemudian membincangkan bahwa tentu tergantung bahan yang dipakai dan proses pengerjaan motifnya  sehingga ada batik yang memang mahal tetapi agaknya beliau lebih ingin menekankan bahwa batik kita adalah batik yang oleh UNESCO diakui sebagai ‘warisan budaya tak benda’ karena filosofi dan proses pengerjaannya yang telah berlaku secara turun temurun sejak ratusan tahun. Sebagai salah satu ‘pejuang’ yang dengan gigih memperjuangkan batik sebagai warisan budaya, yang juga diperebutkan oleh negara negara Asia lain, terutama Malaysia, yang mempunyai batik, tentu bisa difahami mengapa Ibu Suliantoro gigih dengan pendapatnya. Beliau berharap agar banyak masayarakat juga  memahami hal itu.

Diskusi tentang batik yang semakin lama semakin menjadi kain atau busana yang lekat dengan masyarakat memang selalu hangat, sehangat dialog saya dengan Pak Rahadi Ramelan saat itu..( Retno Murti)  

Apa pendapat Anda tentang hal ini?  ( fashionpromag7@gmail.com)

read more
Info

Kisah Lasem

Lasem-2-pas-

Batik Lasem, batik pesisir yang terkenal itu rupanya bisa diangkat dalam kisah drama yang menarik.  Di latar belakangi perseteruan diantara  tokoh tokoh persaingan bisnis batik diselingi dengan percintaan, kisah Batik Lasem ini di tata dengan apik pada alur cerita yang dibumbui dengan humor pula. Paduan suara ‘Sanata Darma’ yang menggugah rasa,  membuat pertunjukan ini jadi lebih berjiwa. Meski tidak semua pemain melakoni perannya dengan baik tetapi pesan yang ada dalam drama ini toh tersampaikan.

Menarik bahwa kostum dalam drama ini ditata dan dihadirkan oleh perancang senior yang terkenal dengan desain desainnya  yang elegan, Harry Darsono. Diselenggarakan di Yogya pada pertengahan tahun lalu, pertunjukan ini menarik banyak penonton. RM/Foto RM

read more
Kain

Adiwastra & Kekinian

20180415_100705-1

Ingin melihat ragam dan beraneka kain kain wastra Adati? Para pencinta wastra tradisional pasti akan dapat melihat kain kain adati Nusantara ini dalam pameran Adiwastra Nusantara. April lalu selama 5 hari penuh Jakarta Covention Center (JCC ) dipenuhi dengan ragam kain kain Nusantara, baik berupa kain  kain batik maupun kain tenun dari berbagai wilayah di negeri kita.

Tema tahun ini adalah ‘Nuansa Kekinian dalam Wastra Adati Nusantara’. Ini bisa disimpulkan dalam makna berbagi bentuk. Dari  kain kain unggulan yang sering dijumpai para pengamat kain dalam kain batik maupun tenun yang cukup langka. Begitupun  makna  kekinian adalah kain kain Nusantara itu tidak hanya menjadi koleksi kain semata tetapi juga tampil dalam berbagai inovasi dari  ragam busana, interio, aksesori bahkan suvenir dan berbagai inovasi bentuk lainnya. Ini sesuai dengan alam kreativitas yang  makin digalakkan tahun tahun belakangan ini.

Diikuti pebisnis dan UKM  kain serta aksesori sebanyak sekitar 400 peserta dengan  30 % perajin daerah memberi peluang untuk peningkatan ekonomi yang semakin luas. Yang menarik dalam Adiwastra ini juga diadakan lomba  ‘Selendang Indonesia’, memberi peluang bagi para kreator untuk mewujudkan selendang sebagai bentuk khas Indonesia  dalam batik maupun tenun  yang menghasilkan pemenang pemenang  dalam beberapa kategori. Selendang  adalah budaya kita yang biasa digunakan dalam berbagai kesempatan namun juga  bisa dijadikan sebagai suvenir yang sangat praktis dibawa ke mana mana termasuk ke luar negeri.

Adiwastra yang secara konsisten sudah dilakukan selama 11 kali sejak tahun 2008  memberi arti keseriusan penyelenggara, khususnya  Ibu Edith Ratna dan team penggagas Adiwastra agar kecintaan pada wastra kita tak pernah padam bahkan makin menyala. RM/foto RM.

read more
Info

Temu Kangen

IFW-7model-2

Sungguh menyenangkan bertemu kawan-kawan lama yang dulu sering berjumpa tetapi karena kesibukan masing-masing  lama tak bersua. Itulah yang terjadi saat perhelatan Indonesia Fashion Week 2018  di Jakarta Convention Center ( JCC) . Gebyar mode tahunan ini memang tak cuma memajang karya-karya pebisnis mode dan para perancangnya tetapi juga menghadirkan  beragam show busana dan … itu tadi,  pertemuan dengan banyak teman yang lama tak berjumpa. Temu kangen lah… RM

read more
1 2 3
Page 2 of 3