close

Indonesia

Travel

Santai di Pantai Ayah

pantai 15,jpg

Meskipun Yogyakarta semakin lama semakin diminati menjadi tujuan wisata, kali ini saya ingin berbagi  bukan tentang wilayah Yogya dan sekitarnya tetapi mengenai apa saja yang kita jumpai bila bepergian dari Jakarta ke Yogya melalui jalan darat.  Bermobil menuju Yogya memang bisa dilalui melalui utara atau selatan. Saya pilih lewat selatan yang meskipun lebih lama waktu perjalanannya dibanding lewat utara yang disebut Pantura (pantai utara)  tetapi memiliki pemandangan yang lebih elok.  Arah selatan setelah lepas dari jalan Tol Cikampek kita menuju ke arah Bandung tidak masuk ke kotanya hanya di lingkar luar lalu menuju daerah Nagrek, Tasikmalaya dan seterusnya.

Bila kita sudah berangkat sejak pukul 5 pagi ada tempat untuk break sejenak menjelang Nagreg. Tempat ngopi ini cukup nyaman dengan pemandangan ke arah ‘hutan’ pinus yang datarannya dilengkapi ayunan  yang bisa dipergunakan bila kita membawa anak kecil. Toiletenya pun terbilang bersih. Selain kopi ada juga mie instan atau makanan kecil lain.  Cukuplah untuk istirahat sejenak. Makan siang bisa dipilih disepanjang jalan, banyak pilihan dari warung sederhana, resto menengah seperti Resto Resik sebelum Tasilmalaya  sampai restoran yang cukup mahal.

Bila ingin langsung ke Yogya biasanya lewat jalan utama melalui Kebumen menuju Ketanggungan dan kemudian Purworedjo sebelum masuk ke Wates yang berada di wilayah  Yogya. Hanya kali ini saya ingin memperlihatkan suatu tempat di pantai di wilayah Kebumen yang sangat sederhana, merupakan pantai masyarakat setempat yang menarik untuk tempat singgah. Menarik, karena justru dari kesederhanaan itulah suasana alami terasa lebih memberi arti.

Jalan menuju ke pantai  ‘Ayah Logending’  itu melewati jalan yang menanjak dan berliku tetapi cukup aman. Inilah salah satu pantai dari sekitar 10 pantai  di wilayah Kebumen yang sudah dikelola penduduk untuk tempat wisata. Menuju ke tempat itu kita bisa melihat dari atas sepanjang lekukan pantai selatan yang indah. Di pantai itu yang diberi bangku-bangku bambu  sederhana kita bisa menikmati pemandangan lepas ke arah pantai atau bukit bukit yang mengelilinginya. Menjelang sore, saat matahari mulai lengser, dibelai angin pantai di dekat warung setempat, pemandangan sun set ini begitu indah.  Kita bisa duduk sambil minum es kelapa muda dan mendoan khas Kebumen yang gurih meski terasa berminyak.

Yah…banyak tempat wisata yang tertata rapi, dikelola secara profesional dan tentu saja tidak murah, tetapi santai menikmati pantai alami dengan kesederhanaan penduduk dan pengelolaannya, merupakan penglaman menarik juga. Di pasir,  di salah satu sudut, anak-anak asyik bermain permainan tradisional ‘engklek’.  Permainan ini dilakukan dengan membuat kotak bergaris seperti bentuk palang, lalu masing-masing memiliki ‘gaco’ (biasanya dari pecahan genteng).  Setelah dilempar ke salah satu kotak mereka harus bisa mengambilnya  namun dengan melompat  menggunakan satu kaki saja dan inilah yang disebut ‘engklek’. Pemenangnya adalah siapa yang bisa melempar dan mengambil semua gaco tanpa jatuh dengan kedua kaki.

Melihat suasana sekitar dan kesederhanaan penduduk desa, merupakan bentuk pemandangan  lain dari pemandangan yang bisa kita lihat di kota besar. Pengalaman inilah yang saya sebut bisa mengisi jiwa kita dengan  value yang berbeda…. RM.foto:RM

 

read more
Travel

Meninjau Bumi Langit

bumi-2

Yogya Selatan. Menuju arah Imogiri, kita bisa menuju satu tempat yang disebut Bumi Langit. Ini adalah tempat di mana semua yang kita rasakan, alami dan makan adalah bahan alami.  Hasil masakan berasal dari olahan bumi sendiri. Sebagai contoh, pembuatan roti memakai bahan gandum alami tanpa campuran apa pun, minuman segar dari kembang telang denga rasa soda yang diproduksi dengan bahan alami pula, juice mulberry, juga madu alami, makanan kecil, dari kacang hingga pisang dan berbagai kripik juga  hasil bertanam sendiri. Tidak hanya makanan dan minuman dari tanaman  alami, tetapi juga peralatan sehari-hari seperti sisir, alat kerokan dari tanduk kerbau. Tempat ini milik Iskandar Woworuntu yang juga menjadi ‘sekolah’ bagi  mereka yang ingin belajar mengolah tanah pertanian tanpa bahan kimia. Magang di tempat ini banyak dilakukan anak anak muda.

Perjalanan menuju ke ‘Bumi Langit’  yang terletak di atas bukit melewati jalan berkelok yang tikungan dan tanjakannya perlu  dilakukan dengan hati hati. Di kiri kanan pohon-pohon ketapang dan pohon jati menjadi bagian pemandangan menuju ke tempat itu.  Dari Bumi Langit, kita justru bisa melihat nun jauh di bawah makam Raja-raja Jawa, makam Imogiri.  Bagi mereka yang suka dengan semua yang serba alami, tempat ini adalah tempat menarik. Duduk di terasnya sambil menikmati makanan dan minuman sehat , sambil menghirup udara segar adalah ‘sesuatu…’ RM/foto:RM, google pic.

read more
Sosok

Diplomat Kuliner

WW-baru-

 Nama William Wongso, pakar kuliner, food expert, tidak saja dikenal di Tanah Air tetapi juga di dunia. Bukunya, Flavors of Indonesia  mendapat  ‘Gourmand World Cookbook Awards’  yang bisa diartikan bagai Oscar di dunia perfilman. Memperkenalkan makanan tradisional Indonesia  yang ditampilkan secara jelas, latar belakang, bahan dan cara pembuatannya  sungguh membuat masakan Indonesia makin dikenal di manca negara. Aktivitas ini adalah bagian dari kecintaan William pada masakan negeri sendiri. Begitu banyak masakan kita dari berbagai daerah dengan aneka keragaman citarasa tetapi tak banyak yang dikenal di dunia luar, katanya suatu waktu. Bandingkan dengan makanan Vietnam, Thailand atau Korea dan Jepang  yang begitu mendunia, makanan Indonesia yang banyak di kenal terbatas pada  nasi goreng ( yang sebenarnya menurutnya merupakan masakan yang ‘left over’ ) gado-gado, sate.

Dalam buku 30 resep masakan Indonesia yang diprakarsai Kementrian Pariwisata semasa Menteri Elka Mari Pangestu, William Wongso bersama almarhum Bondan Winarno dan beberapa pakar kuliner  mewujudkan 30 jenis kuliner Indonesia  dalam sebuah buku dengan  tampilan dan takaran yang bisa jadi panduan sehingga masakan Indonesia mempunyai standar rasa sesuai dengan citarasa di masing-masing daerah yang mempunyai masakan tradisional tersebut.

Rendang meski pernah menjadi masakan terlezat dunia bukankah satu satunya, masih banyak masakan kita yang bisa diperkenalkan. Maka menjadi Diplomat Kuliner keliling baik oleh undangan para penggiat kuliner dunia, maupun support dari  Kementrian Pariwisata membuat William Wongso  hampir tak pernah  lama menjejakkan kaki di Tanah Air. Selalu berkeliling, dari Amerika, ke beberapa negara di Eropa, Asia, Amerika Selatan  dan begitu seterusnya.

Di Indonesia, hampir setiap daerah sudah dikunjunginya. Ia akan mempelajari bahan bahan utama masakan setempat, mencicipi citarasanya dan kemudian memperkenalkannya pada dunia. Kecintaannya pada kuliner Indonesia sudah begitu mendarah daging dan ia dengan mudah dapat menjelaskan  beberapa bahan alami yang ada padanannya dengan beberapa bahan di mancanegara. Karena pengetahuan luasnya  baik tentang masakan internasional maupun masakan negeri sendiri, bertemu seorang William kita bisa mendapat ‘kuliah’ lapangan dan tambahan pengetahuan yang sulit didapat dari sekokah-sekolah kuliner sekalipun.  “Diperlukan banyak usaha untuk melestarikan tradisi seni kuliner kita,” katanya  suatu kali. RM.foto.Dok WW.

 

 

read more
Sosok

Kerja, Kerja, Berbagi

sosok-dwi-3-ok

Profesinya dosen di sebuah universitas di Yogya. Tetapi ia lebih dikenal luas sebagai pembuat herbal untuk pengobatan, khususnya kunyit atau kunir putih. Ini adalah hasil penelitian Prof. Dr Ir Dwiyati, bertahun tahun menggeluti tanaman kunyit putih jenis curcuma mangga.  “Baunya memang seperti mangga,” katanya saat menjelaskan mengapa kunyit putih ini disebut curcuma mangga. Dari testimoni   orang-orang yang telah mengonsumsi kunyit putih ini, mereka sembuh dari berbagai macam penyakit antara lain  diabetes, asam urat, syaraf kejepit, tumor/kanker dan banyak penyakit lain yang dituturkan dalam testimoni para pengguna. Testimoni itu juga sudah ditulis dalam berbagai media. Penelitian  penggunaan  hasil rimpang kunyit putih jenis curcuma mangga untuk berbagai penyakit ini pun makin dikenal dan semakin berdampak luas

Di rumahnya di area jalan Wates, km 9,5 Yogya,  ia sering menerima mereka yang datang untuk mengambil kunyit putih ini untuk berbagai keperluan. Bahkan ia juga mempersilakan mereka yang ingin membantu menjualkan kunyit putih ini, “Agar semakin banyak yang terbantu,” katanya. Prof Dwiyati juga  menerima mahasiswa-mahasiswa untuk diam di bagian rumahnya dengan biaya yang cukup rendah “asal mereka bersedia saja menerima kondisi apa adanya termasuk makan sehari harinya,“ katanya lagi.  Untuk itu para mahasiswa ini juga diminta untuk membantu dalam penyediaan kunyit putih ini termasuk bila tiba saat panen tanaman herbal yang dikelolanya. Sebagai putri seorang guru dan juga petani, Dwiyati terbiasa bekerja dilapangan dan akrab dengan bidang pertanian.

Nama Profesor Dwiyati pun semakin dikenal. Penelitiannya memang bukan main-main. Bertahun tahun ia menggeluti  jenis kunyit putih itu yang kemudian menghasilkan disertasinya  dalam mendapat  gelar Prof Dr, guru besar pertama dalam bidang Teknologi Pengolahan Hasil Hortikultura dari Universitas Mercu Buana, Yogya, tempatnya berdedikasi yang juga dicapainya tepat waktu. Ia memang seorang yang tekun dan  pekerja  keras.  Hasil penelitian ini diwujudkan dalam bentuk kapul-kapsul agar penyebarannya bagi masyarakat lebih praktis dan meluas  yang dapat dibeli dengan harga  sangat terjangkau. “Saya memang ingin banyak orang mendapat manfaat dari kunyit putih ini,” katanya. Ia makin bersemangat ketika beberapa dokter juga menggunakan kunyit putih ini. Berbincang dengannya, mengisyaratkan bahwa ia seorang yang rendah hati  yang sangat ingin membantu  masyarakat luas.

Pencapaian  Prof Dwiyati mestinya bisa menjadi motivasi bagi banyak orang untuk meraih cita-cita setinggi mungkin, bahwa dengan niat tulus dan kerja keras, menghasilkan sosok yang berharga bagi banyak orang. RM.Foto: dok Prof. Dwiyati

 

read more
Info

Kejutan KAMI

KAMI-7

Dalam ajang Jakarta Fashion Week  (JFW) 2018,  brand yang semula bernama ‘KAMI Idea’ ini muncul dengan debut barunya.  Hadir sebagai brand ‘KAMI’  koleksi desain yang ditampilkan tak hanya busana muslim berhijab tetapi juga menampilkan model tanpa hijab. Ingin merangkul pasar yang lebih luas adalah alasan Director KAMI  Istafiana Candarini. Meski demikian target utama tetap busana berhijab.

 

 

KAMI adalah brand modest wear yang fokus pada gaya hidup urban-modern bagi wanita yang lebih memilih memakai  pakaian dengan gaya ‘santun’. Bertema RAFAE- terinspirasi dari sayap malaekat yang konon melindungi mereka yang menuntut ilmu – dengan 24 desain yang ditampilkan pada JFW 2018, bahan yang digunakan dalam koleksi ini adalah polycrepe, organza, chiffon cerutti,  dan katun manish.

Kali ini KAMi kembali tampil dengan kejutan manis. Sumber: KAMI. Foto: dok KAMI,

 

 

 

read more
Fashion

116 & 48 Bin House

obin 9

Perputaran  dunia mode selalu terjadi dari waktu ke waktu. Dalam pergelaran  ‘Jakarta Fashion Week (JFW) 2018’. Bin House menghadirkan berbagai koleksi kain-kain dengan corak, desain, warna memukau yang menjadi andalannya. Dipadu padan dengan kebaya modern atau blus yang sesuai, tampilan busana ‘Di sisi Pertiwi’ mengindikasikan kecintaan pada bumi pertiwi.  Obin dengan Bin Housenya memang tak pernah lepas dari kain dan kreativiats dalam membuat corak, motif dan warna warna yang semuanya  buatan tangan, ‘hand made’.

Kain kain indah yang diperagakan pada JFW 2018 ini juga  menyiratkan  mode yang terus berputar,  kembali dan kembali lagi,  Dibawakan para model yang  dengan lincah  menguasai catwalk, 116 kain-kain BinHouse dan 48 style  atasan sebagai padu padan,  menunjukkan  busana yang diperagakan tampil modern dan tetap Indonesia! Foto.dok. feminagroup/JFW & dok.BinH

read more
1 2 3
Page 3 of 3